MERAUKE — Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) bertemu Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Merauke, Sukito, untuk membahas dinamika pembangunan, kehidupan sosial masyarakat, serta pentingnya menjaga persatuan di tengah perubahan yang berlangsung di Papua Selatan.
Dalam pertemuan tersebut, MPSI menyerahkan buku “PSN Wanam dan Transformasi Sosial Masyarakat Adat Papua Selatan” sebagai bahan kajian dan diskusi mengenai perkembangan Proyek Strategis Nasional di kawasan Wanam serta perubahan sosial yang menyertai pembangunan, Jumat (7/8/2026)
Pertemuan membahas dua hal utama, yakni pentingnya merawat persatuan di tengah masyarakat Merauke yang majemuk dan perlunya memperkuat keterlibatan masyarakat dalam pembangunan agar manfaat yang muncul dapat dirasakan lebih luas.
Kepala Kesbangpol Kabupaten Merauke Sukito menilai keberagaman merupakan salah satu kekuatan utama Merauke. Masyarakat dari berbagai suku, agama dan latar belakang telah hidup berdampingan dan menjadi bagian dari kehidupan sosial daerah.
Menurutnya, keberagaman tersebut bukan hanya perlu dijaga, tetapi juga terus dirawat. Merauke memiliki karakter sosial yang mencerminkan Indonesia dalam skala kecil karena berbagai kelompok masyarakat dapat hidup dan beraktivitas bersama dalam satu wilayah.
Persatuan menjadi semakin penting ketika Merauke menghadapi perubahan pembangunan dalam skala besar. Pembangunan tidak hanya membawa perubahan fisik, tetapi juga berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Dalam pembicaraan mengenai PSN, Sukito turut menyinggung pentingnya melihat pembangunan melalui perspektif keadilan sosial. Pembangunan perlu memperhatikan bagaimana masyarakat setempat memperoleh ruang dan ikut mengambil bagian dalam perubahan yang berlangsung.
Pembahasan kemudian mengarah pada posisi masyarakat dalam pelaksanaan PSN.
Sukito menilai salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah sejauh mana masyarakat di sekitar kawasan pembangunan benar-benar dilibatkan sebagai bagian dari proses tersebut.
“Apakah kita sudah melibatkan yang bersangkutan sebagai tenaga kerja, sebagai pemain di situ, atau sebagai penonton?” ujar Sukito.
Pandangan tersebut menjadi salah satu pokok penting dalam dialog MPSI bersama Kesbangpol Kabupaten Merauke.
Pembangunan berskala besar akan menghadirkan pergerakan ekonomi dan kebutuhan baru. Aktivitas proyek, mobilitas tenaga kerja, serta tumbuhnya kegiatan pendukung akan membuka peluang yang lebih luas bagi masyarakat setempat untuk terlibat dalam pekerjaan, usaha lokal, jasa, maupun kegiatan produktif lainnya.
Sukito melihat peluang tersebut perlu diarahkan agar masyarakat di sekitar kawasan pembangunan tidak hanya berada di luar arus pertumbuhan ekonomi, tetapi memiliki kesempatan untuk masuk dan berkembang di dalamnya.
Dengan demikian, keterlibatan masyarakat tidak hanya dilihat dari kesempatan bekerja langsung di kawasan proyek. Pertumbuhan ekonomi di sekitar PSN juga perlu membuka ruang bagi masyarakat untuk membangun usaha, meningkatkan kemampuan dan mengambil bagian dalam rantai ekonomi yang berkembang.
Sukito turut menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat sekitar agar pelaksanaan PSN memberikan dampak positif bagi mereka.
MPSI memandang pendekatan tersebut penting dalam membaca transformasi sosial yang terjadi di Merauke.
Pembangunan berskala besar tidak hanya mengubah bentang wilayah dan meningkatkan aktivitas ekonomi. Pembangunan juga bersentuhan dengan kehidupan masyarakat adat dan masyarakat lokal yang telah lebih dahulu hidup dan membangun relasi sosial di wilayah tersebut.
Karena itu, masyarakat perlu memperoleh ruang yang memadai untuk terlibat dalam proses pembangunan sekaligus mengambil manfaat dari peluang ekonomi yang muncul.
Perspektif tersebut menjadi salah satu perhatian dalam buku “PSN Wanam dan Transformasi Sosial Masyarakat Adat Papua Selatan” yang diserahkan MPSI kepada Kepala Kesbangpol Kabupaten Merauke.
MPSI menilai pelibatan masyarakat juga penting untuk memperkuat rasa memiliki terhadap pembangunan. Ketika masyarakat mendapatkan kesempatan untuk bekerja, meningkatkan kapasitas dan mengembangkan kegiatan ekonomi, pembangunan akan memiliki hubungan yang lebih kuat dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Pada saat yang sama, persatuan tetap menjadi fondasi penting.
Keberagaman yang telah tumbuh di Merauke merupakan modal sosial yang perlu dipertahankan agar perubahan pembangunan tidak mengurangi ruang kebersamaan yang telah terbentuk di tengah masyarakat.
Pertemuan dengan Kepala Kesbangpol Kabupaten Merauke menjadi bagian dari upaya MPSI membangun komunikasi dengan pemerintah daerah sekaligus menyampaikan hasil kajian mengenai PSN dan transformasi sosial masyarakat adat di Papua Selatan.
Bagi MPSI, ukuran pembangunan tidak cukup berhenti pada bertambahnya infrastruktur atau meningkatnya aktivitas ekonomi.
Pembangunan juga perlu dilihat dari kemampuan masyarakat setempat memperoleh ruang dalam proses perubahan tersebut dan merasakan manfaat yang lahir dari pembangunan.
Merauke memiliki peluang untuk menunjukkan bahwa pembangunan berskala nasional dapat berjalan bersama dengan persatuan dan pelibatan masyarakat.
Ketika masyarakat lokal dan masyarakat adat hadir sebagai bagian dari pembangunan, perubahan yang berlangsung tidak hanya menghasilkan kemajuan wilayah, tetapi juga memperkuat rasa memiliki dan kebersamaan dalam menata masa depan Merauke.











