by

Ekspedisi Patriot IPB Dorong Petani Salor Jadi Produsen Benih Padi, Kurangi Ketergantungan Pasokan dari Luar

MERAUKE — Ketergantungan petani terhadap pasokan benih dari luar kawasan menjadi salah satu tantangan pengembangan pertanian padi di Kawasan Transmigrasi Salor, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Papua Selatan.

Kondisi itu kini menjadi perhatian Tim Ekspedisi Patriot IPB University yang hadir di Merauke dengan membawa program riset dan pendampingan untuk mendorong lahirnya petani yang mampu memproduksi benih padi secara mandiri.

Tim yang diketuai Dr. Ir. Ahmad Junaedi, M.Si. tersebut akan menjalankan program selama empat bulan, mulai Agustus hingga November 2026, dengan fokus pada pengembangan pembenihan varietas padi IPB 9G.

Ahmad Junaedi mengatakan, program tidak diarahkan sekadar mengenalkan varietas padi baru kepada petani. Target yang lebih penting adalah membangun kapasitas petani agar mampu memahami proses produksi benih dan secara bertahap dapat memenuhi kebutuhan benih dari kawasan sendiri.

“Tujuan utama kami bukan hanya menghasilkan benih, tetapi bagaimana petani memiliki kapasitas dan pengetahuan untuk dapat memproduksi benih sendiri secara berkelanjutan,” kata Ahmad.

Menurutnya, kemampuan menghasilkan benih secara mandiri menjadi salah satu fondasi penting untuk memperkuat keberlanjutan usaha tani.

Jika kapasitas tersebut dapat dibangun di tingkat petani, ketergantungan terhadap distribusi benih dari luar kawasan dapat dikurangi sekaligus membuka peluang tumbuhnya sistem perbenihan lokal di Salor.

Tim Ekspedisi Patriot yang bertugas terdiri atas lima alumni IPB, yakni Dwi Arizna Arofah, S.P., M.Si., Dani Ahmad Lazuardi, S.P., M.Si., Nur Fajriah Eka Putri, S.Tr.P., Ahmad Arya Asmara, S.P., dan Wira Yudha Prima, S.P

Sebelum memulai pendampingan, tim terlebih dahulu melakukan pemetaan kondisi lapangan dan koordinasi dengan sejumlah pemangku kepentingan di Papua Selatan.

Koordinasi dilakukan bersama Dinas Transmigrasi Provinsi Papua Selatan untuk memperoleh gambaran mengenai perkembangan kawasan transmigrasi dan arah kebijakan yang berkaitan dengan lokasi penugasan.

Tim juga berdiskusi dengan Dinas Hortikultura, Tanaman Pangan dan Perkebunan Kabupaten Merauke untuk mengidentifikasi potensi pengembangan pembenihan serta dukungan teknis yang dibutuhkan di lapangan.

Koordinasi Tim Ekspedisi Patriot Distrik Kurik

Pada tingkat distrik, koordinasi dilakukan dengan Balai Penyuluhan Pertanian Distrik Kurik, Kepala Distrik Kurik, hingga Pemerintah Kampung Harapan Makmur.

Komunikasi juga dibangun bersama Kodim 1707/Merauke dan Polres Merauke sebagai bagian dari koordinasi pelaksanaan kegiatan selama penugasan.

Rangkaian koordinasi tersebut menjadi langkah awal untuk memastikan program yang dijalankan tidak berhenti sebagai kegiatan penelitian, tetapi benar-benar menyesuaikan dengan kondisi pertanian, kebutuhan petani, serta karakteristik masyarakat setempat.

Dalam tahap pendampingan, petani akan diperkenalkan pada proses produksi benih secara lebih menyeluruh, mulai dari pengelolaan pertanaman, teknologi budidaya, pemeliharaan mutu tanaman hingga tahapan produksi benih.

Pendekatan dilakukan secara bertahap sehingga pengetahuan dan teknologi yang diperkenalkan dapat dipahami serta diterapkan oleh petani sesuai kondisi lapangan.

Tim menargetkan proses tersebut dapat melahirkan petani yang tidak hanya berperan sebagai pengguna benih, tetapi mulai memiliki kemampuan menjadi produsen benih di tingkat kawasan.

Langkah tersebut dinilai penting karena keberlanjutan produksi pangan tidak hanya bergantung pada luas lahan dan kemampuan budidaya, tetapi juga pada ketersediaan input produksi, termasuk benih yang dapat diakses petani secara berkelanjutan.

Selain melakukan koordinasi dengan pemerintah dan masyarakat, Tim Ekspedisi Patriot juga berkonsolidasi dengan tim padi IPB lainnya yang bertugas di Merauke.

Konsolidasi dilakukan untuk bertukar informasi mengenai kondisi lapangan serta menyelaraskan pendekatan pengembangan komoditas padi di masing-masing lokasi penugasan.

Bagi Tim Ekspedisi Patriot, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang dibawa dari perguruan tinggi. Kolaborasi dengan pemerintah daerah, penyuluh pertanian, pemerintah kampung dan terutama petani menjadi faktor penting agar inovasi dapat bertahan setelah masa penugasan selesai.

Selama empat bulan ke depan, Kawasan Transmigrasi Salor akan menjadi ruang pertemuan antara hasil riset IPB dan pengalaman petani Merauke di lapangan.

Jika proses pendampingan berjalan sesuai target, Salor tidak hanya berpeluang memperkuat produksi padi, tetapi juga mulai membangun fondasi kemandirian perbenihan dari tingkat petani.

Dari kawasan transmigrasi di Merauke itu, Tim Ekspedisi Patriot IPB berharap dapat mendorong satu perubahan penting: petani tidak lagi hanya menunggu benih datang, tetapi perlahan mampu memproduksinya sendiri.