MERAUKE — Berapa sebenarnya uang yang dihabiskan keluarga nelayan dalam satu bulan?
Pertanyaan sederhana itu ternyata tidak mudah dijawab ketika setiap pengeluaran tidak pernah dicatat. Belanja dapur, kebutuhan anak, pulsa, transportasi hingga biaya melaut sering terlihat kecil jika dihitung satu per satu, tetapi nilainya menjadi besar ketika dikumpulkan.
Hal tersebut dirasakan sejumlah keluarga nelayan di Kampung Matara, Merauke, saat mengikuti Simulasi Kelola Uang Nelayan atau Si-Keong yang dilaksanakan tim pengabdian Universitas Musamus pada 14 Agustus 2026.
Empat keluarga nelayan yang menjadi peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan. Mereka diajak langsung mencatat, mengelompokkan dan menghitung berbagai pengeluaran rumah tangga sebagaimana yang mereka hadapi sehari-hari.
Mulai dari kebutuhan dapur, kebutuhan anak, listrik dan air, pulsa, transportasi hingga biaya operasional melaut, seluruhnya dihitung bersama.
Hasil simulasi memperlihatkan bahwa kebutuhan dapur menjadi salah satu pengeluaran terbesar keluarga, disusul kebutuhan anak serta biaya operasional untuk melaut.
Simulasi itu juga membuka kenyataan lain. Sebagian peserta menyadari bahwa selama ini pendapatan keluarga belum dialokasikan untuk tabungan.
Padahal, bagi keluarga nelayan, pemasukan sangat dipengaruhi cuaca, musim dan hasil tangkapan. Ketika kondisi laut tidak memungkinkan untuk melaut, pendapatan bisa berkurang sementara kebutuhan rumah tangga tetap berjalan.
“Awalnya kelihatan kecil-kecil, tapi begitu dijumlahkan, baru terasa besarnya,” ujar salah seorang peserta usai mengikuti simulasi.
Pernyataan tersebut menggambarkan tujuan utama kegiatan: membuat keluarga melihat sendiri kondisi keuangannya, bukan sekadar mendengar teori tentang bagaimana mengelola uang.
Belajar dari Kehidupan Sehari-hari

Si-Keong diadopsi dari metode yang digunakan Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) dalam pendampingan keluarga nelayan di sejumlah daerah.
Tim pengabdian yang terdiri dari dosen Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan dan Agribisnis Universitas Musamus kemudian menyesuaikan metode tersebut dengan kehidupan masyarakat pesisir Merauke.
Sebelum digunakan bersama warga, simulasi terlebih dahulu diuji coba bersama mahasiswa.
Materinya kemudian disesuaikan dengan kondisi nyata di Kampung Matara, mulai dari jenis ikan tangkapan, istilah yang digunakan nelayan, aktivitas melaut hingga harga ikan di pasar lokal.
Penyesuaian tersebut membuat persoalan keuangan dapat dibahas melalui pengalaman yang benar-benar dikenal masyarakat.
Bukan soal teori ekonomi yang rumit, tetapi bagaimana uang hasil melaut digunakan, siapa yang menentukan pengeluaran, kebutuhan apa yang harus diprioritaskan dan berapa yang dapat disisihkan untuk menghadapi kondisi tidak menentu.
Perempuan Perlu Lebih Dilibatkan
Simulasi juga membuka pembicaraan tentang pembagian peran dalam pengelolaan keuangan keluarga nelayan.
Dari proses tersebut terlihat bahwa kebutuhan suami cenderung memperoleh alokasi lebih besar dibanding kebutuhan istri, sementara para ibu belum banyak dilibatkan secara langsung dalam mengelola keuangan keluarga.
Kondisi itu menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan Si-Keong.
Perempuan didorong untuk lebih terlibat dalam perencanaan dan pengambilan keputusan ekonomi rumah tangga karena mereka juga berhadapan langsung dengan kebutuhan sehari-hari keluarga.
Pengelolaan keuangan yang lebih terbuka antara suami dan istri dinilai penting agar pendapatan keluarga dapat dibagi berdasarkan kebutuhan yang lebih terukur.
Saat Nelayan Tak Bisa Melaut, Dapur Tetap Harus Menyala
Persoalan lain yang muncul dalam simulasi adalah ketergantungan keluarga nelayan pada satu sumber pendapatan.
Bagi keluarga yang menggantungkan kehidupan dari laut, kondisi cuaca merupakan faktor yang tidak selalu dapat diprediksi.
Ketika cuaca buruk atau hasil tangkapan menurun, pemasukan ikut berkurang. Namun kebutuhan dapur, kebutuhan anak, listrik, transportasi dan kebutuhan lainnya tetap harus dipenuhi.
Karena itu, peserta juga diajak melihat pentingnya sumber pendapatan tambahan sebagai penyangga ekonomi keluarga ketika aktivitas melaut sedang tidak menguntungkan.
Bagi keluarga nelayan, kemampuan mengatur pendapatan menjadi sama pentingnya dengan kemampuan memperoleh pendapatan.
Penghasilan yang diperoleh saat hasil tangkapan sedang baik perlu dibagi secara lebih terencana antara kebutuhan rumah tangga, biaya untuk kembali melaut dan cadangan menghadapi masa ketika pemasukan menurun.
Kepala Kampung: Jangan Hanya Empat Keluarga
Kegiatan Si-Keong mendapat respons positif dari Pemerintah Kampung Matara.
Kepala Kampung Matara Robert Untailawal menilai edukasi pengelolaan keuangan seperti itu perlu menjangkau lebih banyak warga.
“Kegiatan ini sebaiknya tidak hanya berhenti di empat orang ini, tapi bisa menjangkau lebih banyak peserta,” kata Robert.
Dukungan pemerintah kampung menjadi peluang agar metode tersebut dapat dikembangkan dengan cakupan peserta yang lebih luas.
Tim Universitas Musamus juga merencanakan penyempurnaan metode Si-Keong dan pendampingan lanjutan agar keluarga nelayan tidak hanya memahami pencatatan keuangan saat simulasi, tetapi mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan tersebut didanai melalui DIPA Universitas Musamus Tahun Anggaran 2026.
Bagi keluarga nelayan Matara, pelajaran dari Si-Keong berangkat dari hal paling sederhana yaitu mengetahui ke mana uang pergi.
Dari sana, keluarga dapat mulai menentukan mana kebutuhan utama, mana pengeluaran yang dapat dikendalikan, berapa biaya yang harus disiapkan untuk kembali melaut, dan kapan pendapatan perlu disisihkan.
Sebab bagi keluarga yang hidup dari laut, ketahanan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya ikan yang dibawa pulang, tetapi juga oleh bagaimana hasil tangkapan hari ini dikelola untuk menghadapi hari ketika laut tidak bisa memberikan penghasilan.
Penulis: Maria Widiastuti (Tim Pengabdian Universitas Musamus)












