by

Karhutla Nabire Rusak Lebih dari 1.052 Sawit Muda

Nabire – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, berdampak pada lebih dari 1.052 tanaman kelapa sawit muda yang berada di sejumlah kawasan perkebunan.

Data tersebut dicatat Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Papua Tengah dari rangkaian kejadian karhutla yang berlangsung sejak 18 Juli 2026.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Perkebunan dan Peternakan Papua Tengah, Andrias, mengatakan terdapat puluhan kejadian kebakaran yang tersebar di sekitar kawasan perkebunan kelapa sawit di Nabire.

“Terdapat 23 kejadian karhutla di sekitar kawasan perkebunan kelapa sawit Nabire dengan total lahan terdampak sekitar 67,95 hektare,” katanya di Nabire, dilansir dari Antara, Selasa (15/9/2026).

Salah satu kebakaran terjadi pada 21 Agustus 2026 di Blok K40/K37. Peristiwa tersebut berdampak pada sekitar 875 tanaman sawit. Selain itu, sekitar enam hektare kawasan bernilai konservasi tinggi atau high conservation value (HCV) juga ikut terdampak.

Kebakaran berikutnya terjadi pada 25 Agustus di Blok D19. Sebanyak sekitar 95 tanaman sawit muda yang berusia 24 bulan terdampak akibat kejadian tersebut.

Sehari kemudian, api kembali membakar kawasan Blok D25. Sekitar 82 tanaman sawit muda berusia 27 bulan dilaporkan terdampak.

Andrias menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena tanaman yang terdampak masih berada dalam fase pertumbuhan. Kerusakan pada tanaman muda berpotensi memengaruhi keberlanjutan produksi perkebunan.

“Karhutla tidak hanya berdampak pada tanaman, tetapi juga dapat mengganggu kawasan yang memiliki fungsi perlindungan lingkungan,” katanya.

Menurut dia, sejumlah titik kebakaran berada di berbagai area, mulai dari luar kawasan hak guna usaha (HGU), kawasan bernilai konservasi tinggi, sempadan sungai, hingga kawasan perkebunan dan lokasi pembukaan lahan.

Berdasarkan laporan awal, beberapa kejadian diduga berkaitan dengan aktivitas pembakaran yang tidak terkendali untuk membuka lahan maupun kegiatan pertanian. Namun, Andrias menegaskan dugaan tersebut masih membutuhkan verifikasi lebih lanjut.

Untuk menangani kebakaran, perusahaan perkebunan telah mengerahkan tim tanggap darurat bersama petugas keamanan dan lingkungan. Penanganan juga didukung kendaraan pemadam, pompa bertekanan tinggi, serta berbagai peralatan pemadaman lainnya.

Andrias mengatakan upaya penanggulangan tidak cukup hanya dilakukan ketika kebakaran terjadi. Langkah pencegahan perlu diperkuat melalui patroli secara rutin, deteksi dini titik api, pemeliharaan sekat bakar, serta komunikasi dengan masyarakat yang berada di sekitar kawasan perkebunan.

Ia pun mendorong pemerintah, perusahaan perkebunan, masyarakat, dan instansi terkait memperkuat koordinasi untuk mencegah terulangnya kebakaran.

Menurutnya, pencegahan menjadi penting agar karhutla tidak terus mengancam keberlangsungan usaha perkebunan sekaligus merusak fungsi lingkungan di Kabupaten Nabire.