by

Warga 9 Marga di Merauke Gelar Upacara Adat Sambut Pembangunan Kebun Sawit Plasma Mandiri

Merauke, HAISAWIT.CO.ID – Warga dari sembilan marga di Distrik Ulilin, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, menggelar upacara adat sebagai penanda dimulainya pembangunan kebun sawit plasma yang akan dikelola secara mandiri.

Upacara adat yang digelar Koperasi Inggyash Ghuzi menjadi ungkapan rasa syukur masyarakat adat sekaligus menandai dimulainya pembangunan kebun plasma setelah seluruh tahapan perizinan berhasil diselesaikan.

Ketua Koperasi Inggyash Ghuzi sekaligus Ketua Marga Koula, Richard Nosai Koula, mengatakan pembangunan kebun plasma tersebut telah lama dinantikan oleh masyarakat adat di Distrik Ulilin.

“Kami berharap setelah acara adat ini, pembukaan lahan dan penananam kelapa sawit bisa segera dilaksanakan dengan target 500 hektar pada tahun pertama, kemudian dilanjutkan lebih luas lagi pada tahun kedua dan ketiga, sehingga total mencapai 3.700 hektar,” ujar Richard Nosai Koula.

Koperasi Inggyash Ghuzi didirikan pada 2016 sebagai wadah pengembangan usaha bersama bagi sembilan marga, termasuk pengembangan kebun sawit plasma berbasis masyarakat adat.

Saat ini koperasi telah mengantongi Hak Guna Usaha (HGU) seluas 4.607,2 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 3.755 hektare akan dimanfaatkan sebagai areal kebun sawit, sedangkan 852 hektare tetap dipertahankan sebagai kawasan Nilai Konservasi Tinggi (NKT).

Untuk mendukung pembangunan kebun, Koperasi Inggyash Ghuzi menjalin kerja sama dengan PT Bangun Papua Luhurkarya (BPL). Perusahaan itu akan mendampingi pembangunan dan pengelolaan kebun sesuai praktik Good Agricultural Practices (GAP) dan Best Management Practices (BMP).

Direktur PT BPL, Maria Andini, menjelaskan pembangunan kebun kemitraan tersebut telah melalui berbagai tahapan, mulai dari sosialisasi, proses Padiatapa, pengurusan HGU, pendataan potensi kayu hingga penunjukan kontraktor pembukaan lahan.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Merauke, Josefa L. Rumaseu, menyebut pembangunan kebun plasma berbasis masyarakat adat ini layak menjadi contoh bagi pengembangan perkebunan di daerah.

“Ini merupakan pembangunan kebun plasma berbasis masyarakat adat yang patut menjadi contoh, dan kehadiran pendamping dari PT BPL diharapkan dapat membantu Koperasi Inggyash Ghuzi dan 9 marga untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan keterampilan masyarakat mengelola kebun sawit, sehingga kebun dapat memberikan dampak peningkatan penghasilan dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Josefa L. Rumaseu.

Sementara itu, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kabupaten Merauke menyebut pola kelola mandiri masih jarang diterapkan dalam pembangunan kebun plasma di Papua Selatan.

Menurut dinas tersebut, pola kelola mandiri memberi ruang bagi koperasi untuk terlibat langsung dalam pengelolaan kebun. Berbeda dengan sistem manajemen satu atap, koperasi tidak hanya menerima laporan perkembangan dan bagi hasil.

Upacara adat itu turut dihadiri unsur pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pemerintah distrik, serta masyarakat kampung sebagai bentuk dukungan terhadap pembangunan kebun sawit berbasis masyarakat adat.

Melalui pembangunan kebun sawit yang dikelola secara mandiri, Koperasi Inggyash Ghuzi berupaya menghadirkan manfaat ekonomi jangka panjang bagi anggota koperasi yang berasal dari sembilan marga di Distrik Ulilin.