MERAUKE — Tim Ekspedisi Patriot (TEP) IPB University mulai memetakan kondisi pertanian padi di Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Dari penelusuran awal, ketersediaan air dan kesiapan lahan menjadi dua persoalan penting yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan pertanian di kawasan tersebut.
Temuan itu diperoleh saat tim mengunjungi kawasan persawahan Kampung Waninggap, Jumat (7/8/2026), dan berdiskusi dengan Hasianna Darmawati Samosir, akademisi pertanian yang selama ini terlibat dalam pendampingan dan pemberdayaan kelompok tani di Distrik Semangga.
Dalam diskusi tersebut, tim memperoleh gambaran mengenai sekitar 2.308 hektare lahan yang masuk dalam program pengembangan pertanian. Dari luasan tersebut, sekitar 500 hektare telah mulai diolah, sementara sebagian lainnya masih membutuhkan penataan sebelum dapat ditanami secara optimal.
Salah satu tantangan utama yang ditemukan adalah ketersediaan air, terutama saat musim kemarau.
Karakter lahan Merauke yang relatif datar membuat distribusi air pada sejumlah lokasi tidak selalu mudah dilakukan. Kondisi sumber air juga berbeda-beda sehingga perlu dipetakan sebelum menentukan pola budidaya yang paling sesuai.

Pada beberapa areal cetak sawah, kesiapan lahan juga masih menjadi pekerjaan tersendiri. Permukaan tanah perlu diratakan, sementara pada sejumlah titik masih ditemukan sisa kayu yang harus dibersihkan sebelum pengolahan dapat dilakukan secara optimal.
Kondisi tersebut membuat karakter pertanian di Semangga tidak dapat disamaratakan.
Sebagian merupakan lahan pertanian eksisting yang telah lama dikelola petani dan memiliki sistem budidaya yang relatif terbentuk. Sementara sebagian lainnya merupakan lahan cetak sawah baru yang masih membutuhkan penyesuaian sebelum dapat berproduksi secara maksimal.
Perbedaan karakter lahan itu menjadi perhatian Tim Ekspedisi Patriot IPB University yang membawa fokus penguatan ekosistem bisnis pengolahan padi terintegrasi untuk pengembangan produksi benih dan beras konsumsi.
Tim juga mulai mengkaji kemungkinan pengembangan varietas padi IPB 9G di kawasan Semangga.
Pemilihan lokasi menjadi salah satu aspek yang harus dikaji lebih dalam, apakah pengembangan lebih tepat dilakukan pada lahan eksisting, lahan cetak sawah baru, maupun lahan yang menjadi bagian dari program CSR.
Setiap lokasi memiliki kondisi dan kebutuhan berbeda, mulai dari ketersediaan air, kondisi tanah, kesiapan infrastruktur hingga riwayat pengelolaan lahan.
IPB 9G merupakan varietas padi hasil pengembangan IPB University yang memiliki kemampuan adaptasi terhadap berbagai kondisi lahan dan kebutuhan air yang relatif efisien.
Namun, Tim Ekspedisi Patriot menilai potensi varietas tetap harus disesuaikan dengan kondisi nyata di lapangan.
Penelusuran awal menunjukkan sumber air menjadi faktor penting yang harus diperhatikan. Pada beberapa titik terdapat sumber air dengan tingkat keasaman tertentu, sedangkan sumber lainnya masih memungkinkan dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.
Saat ini, salah satu demplot seluas sekitar satu hektare masih mengandalkan pompa untuk memenuhi kebutuhan air.
Sementara pada kawasan yang memiliki akses lebih baik terhadap sumber air, aktivitas pertanian telah berjalan lebih intensif. Sebagian lahan bahkan telah memasuki musim tanam ketiga.
Di sisi lain, penggunaan teknologi pertanian di Semangga mulai berkembang.
Petani dan pelaku pertanian telah mengenal penggunaan combine harvester, pompa air hingga drone dalam mendukung kegiatan pertanian.
Namun, mekanisasi saja dinilai belum cukup apabila persoalan dasar seperti air dan kesiapan lahan belum tertangani.
Anggota Tim Ekspedisi Patriot IPB University, Cep Abdul Baasith Wahpiyudin, mengatakan pengembangan pertanian padi harus dilihat sebagai sebuah sistem yang saling terhubung.
“Kami melihat teknologi pertanian sudah mulai digunakan di lapangan. Tantangannya sekarang adalah bagaimana teknologi itu didukung oleh kesiapan lahan, ketersediaan air, benih yang sesuai, pengolahan hasil hingga akses pasar. Semua bagian ini saling berhubungan,” katanya.
Menurut Cep, kunjungan tersebut merupakan tahap awal untuk memahami kondisi pertanian dan menentukan persoalan yang perlu dipetakan lebih dalam.
“Justru kami datang untuk mendengar lebih dulu. Kondisi setiap lahan berbeda. Karena itu, kami perlu memahami mana yang menjadi persoalan utama petani dan potensi apa yang sebenarnya sudah berjalan baik sebelum menyusun rekomendasi,” ujarnya.
Tim Ekspedisi Patriot tersebut dipimpin Prof. Dr. A. Faroby Falatehan, S.P., M.E., dengan anggota Siti Nurjannah, Arwani Maulida Yusra, Cep Abdul Baasith Wahpiyudin, Fayza Andani, dan Mangatur Ganda Silaban.
Setelah pemetaan kondisi lahan, tim akan menelusuri aspek lain dalam rantai usaha pertanian, mulai dari pascapanen, penggilingan, kelembagaan petani, distribusi, harga hingga akses pasar.
Pemetaan tersebut juga menjadi penting dalam pengembangan produksi benih karena membutuhkan kondisi budidaya yang lebih terkontrol.
Tim selanjutnya akan memperkuat koordinasi dengan pemerintah kampung, kelompok tani dan pemangku kepentingan di Distrik Semangga untuk memperoleh gambaran lebih lengkap mengenai kondisi lahan, kebutuhan petani dan arah pengembangan pertanian di kawasan tersebut.
Dari penelusuran awal di Waninggap, satu hal mulai terlihat jelas. Besarnya potensi pertanian Merauke tidak hanya ditentukan oleh luasnya lahan maupun kecanggihan teknologi.
Air harus tersedia, lahan harus siap, benih harus sesuai, teknologi harus tepat guna, dan petani harus memperoleh manfaat.
Lima aspek tersebut menjadi fondasi penting bagi Tim Ekspedisi Patriot IPB University dalam mendorong potensi pertanian padi Merauke berkembang menjadi ekosistem usaha yang produktif, berkelanjutan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.






