Jakarta – Tokoh Suku Besar Sebyar Papua, Malkin Kosepa, angkat bicara mengenai buku karya Pendeta Socratez Yoman yang mengangkat isu pemusnahan etnis Melanesia.
Malkin menilai berbagai persoalan yang terjadi di Papua memang perlu dikritisi dan dibicarakan secara terbuka. Namun, ia mengingatkan agar narasi mengenai Papua tidak terus-menerus dibangun dengan menggambarkan wilayah tersebut hanya sebagai tempat yang dipenuhi konflik, kekerasan dan penderitaan.
“Kalau kita cinta Papua, jangan terus gambarkan tanah ini penuh api. Papua memang punya persoalan, tetapi Papua juga punya kehidupan, harapan dan masa depan,” kata Malkin dalam keterangan, Senin (7/9/2026).
Ia menghormati kebebasan Socratez Yoman dalam menyampaikan pandangan maupun kesaksian terkait persoalan Papua. Kendati demikian, Malkin berharap kritik yang disampaikan tetap membuka ruang untuk dialog serta mendorong perdamaian.
“Kalau ada kekerasan, ungkap. Kalau ada korban, berikan keadilan. Kalau ada kebijakan yang salah, perbaiki. Tetapi jangan karena ingin membuka luka, seluruh wajah Papua kemudian digambarkan seperti neraka,” ujarnya.
Minta Istilah Genocide Didukung Data
Malkin juga menyoroti penggunaan istilah pemusnahan etnis atau genocide. Menurutnya, istilah tersebut memiliki konsekuensi serius sehingga penggunaannya perlu didukung data dan kajian yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Genocide bukan istilah biasa. Kalau istilah itu digunakan, harus ada dasar yang kuat. Kita harus membedakan fakta, kesaksian, kritik dan kesimpulan hukum,” kata Malkin.
Ia menegaskan kehidupan Papua tidak hanya berkutat pada konflik. Di tengah berbagai persoalan, masyarakat tetap menjalankan aktivitas sehari-hari.
Petani tetap berkebun, nelayan melaut, anak-anak pergi ke sekolah, sementara masyarakat adat terus menjalankan kehidupan sosial dan budayanya.
“Jangan hanya lihat api. Lihat juga kehidupan masyarakat yang ingin hidup tenang. Jangan hanya bicara masa lalu, mari bicara bagaimana masa depan Papua,” ujarnya.
Malkin juga mengingatkan pentingnya kedewasaan dalam menyikapi persoalan, terutama ketika menyampaikan kritik di ruang publik.
Menurutnya, bertambahnya usia seharusnya diikuti dengan semakin matang dalam melihat berbagai persoalan dan menentukan pilihan kata.
“Semestinya usia yang semakin tidak muda lagi membuat kita semakin bijak mencermati kehidupan. Kritik boleh keras, tetapi jangan sampai kata-kata kita justru membakar emosi dan mewariskan kebencian kepada generasi muda Papua,” katanya.
Kedamaian Jadi Modal Pembangunan Papua
Malkin menilai kedamaian menjadi kebutuhan penting bagi Papua agar masyarakat dapat menjalankan aktivitas sekaligus mempercepat pembangunan.
Tanpa situasi yang kondusif, masyarakat akan sulit bekerja secara maksimal dan pemerintah juga akan menghadapi tantangan lebih besar dalam menjalankan berbagai program pembangunan.
“Kalau Papua damai, masyarakat bisa bekerja, anak-anak bisa sekolah, ekonomi tumbuh dan pemerintah bisa lebih fokus membangun. Kedamaian adalah modal utama untuk berbenah,” ujarnya.
Ia menegaskan kritik terhadap pemerintah tetap diperlukan sebagai bagian dari upaya memperbaiki kebijakan. Namun, kritik tersebut harus disampaikan secara objektif dengan membedakan kebijakan yang perlu dikoreksi dan program yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Papua punya persoalan, tetapi Papua bukan persoalan. Papua punya luka, tetapi Papua bukan hanya luka. Kalau kita benar-benar mencintai Papua, mari bicara berdasarkan fakta sekaligus menjaga kedamaian,” tegas Malkin.
Ia berharap generasi muda Papua tidak mewarisi konflik dan kebencian dari generasi sebelumnya. Sebaliknya, nilai persaudaraan dan perdamaian harus menjadi bagian dari masa depan Papua.
“Jangan wariskan api kepada generasi berikutnya. Wariskan kedamaian, persaudaraan dan masa depan. Papua baik-baik saja, tetapi harus terus menjadi lebih baik,” pungkasnya.











