Merauke – Peneliti Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI), Annas Fitrah Akbar, mendorong pengembangan potensi budaya Kampung Wanam dilakukan secara terencana dan berkelanjutan agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurut Annas, berbagai gagasan yang muncul dari masyarakat, mulai dari pusat kebudayaan, dokumentasi adat, kerajinan hingga wisata, memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Namun, seluruh rencana tersebut perlu disusun berdasarkan skala prioritas agar pelaksanaannya tidak berjalan tanpa arah.
“Niat yang luar biasa ini jangan langsung nanti membuat kita pusing sendiri. Kita harus bikin dulu perencanaannya. Yang mana ini yang kita dahulukan,” kata Annas dalam Dialog Masyarakat di Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke seperti dikutip dalam keterangannya, Selasa (25/8/2026).
Ia menilai dokumentasi kebudayaan menjadi salah satu langkah awal yang perlu mendapat perhatian. Sejarah, nilai adat, pengetahuan lokal, serta berbagai praktik budaya masyarakat perlu dihimpun dan disusun secara sistematis.
“Yang kita dahulukan, perkuat dokumentasinya dulu. Kita kuatkan kebudayaannya. Kita bentuk bukunya, sambil menyusun tempat kerajinan,” ujarnya.
Selain dokumentasi, Annas menekankan pentingnya memikirkan aspek pasar ketika mengembangkan ekonomi berbasis budaya. Pembangunan fasilitas produksi maupun ruang kerajinan harus dibarengi dengan perencanaan pemasaran agar produk yang dihasilkan benar-benar memiliki pembeli.
“Jangan sampai kita bikin gedung, terus kita bikin anyam-anyam, tidak ada yang beli. Ini perlu kita rencanakan. Kita rencanakan yang mana dahulu,” katanya.
Karena itu, pengembangan budaya Wanam dapat dilakukan secara bertahap. Tahap awal bisa difokuskan pada pendataan adat, pemetaan potensi budaya, identifikasi produk, peningkatan keterampilan masyarakat, hingga penentuan pola pengelolaan.
Selanjutnya, program dapat diarahkan pada pembangunan ruang produksi, penguatan pemasaran, promosi digital, serta pengembangan kegiatan budaya yang mampu menarik pengunjung dari luar Wanam.
Annas juga meminta agar rencana pengembangan dibagi berdasarkan target jangka pendek dan jangka panjang.
“Nanti perlu kita susun rencana aksi. Rencana jangka pendeknya apa, jangka panjangnya apa. Jadi terstruktur,” tuturnya.
Menurutnya, penyusunan rencana tidak boleh dilakukan tanpa melibatkan masyarakat lokal. Kepala kampung, ketua adat, tokoh masyarakat, mama-mama, generasi muda, serta kelompok masyarakat lainnya perlu dilibatkan sejak awal.
MPSI, kata Annas, dapat berperan dalam pendampingan agar gagasan masyarakat dapat diterjemahkan menjadi program yang lebih terstruktur. Namun, keputusan mengenai kebudayaan yang akan dikembangkan tetap harus berada di tangan masyarakat adat.
Salah satu gagasan yang dapat diwujudkan dalam jangka menengah adalah festival budaya tahunan. Kegiatan tersebut dinilai dapat menjadi sarana regenerasi sekaligus memperkenalkan potensi budaya Wanam kepada masyarakat luas.
“Target kita tahun depan punya festival tahunan. Adat apa yang perlu kita tampilkan, itu harus dirumuskan bersama,” kata Annas.
Ia menilai masyarakat Wanam merupakan pihak yang paling memahami tradisi yang layak ditampilkan sekaligus nilai-nilai adat yang harus dipertahankan.
Jika dilakukan secara konsisten dan bertahap, Annas melihat Wanam memiliki peluang menjadi salah satu pusat edukasi budaya di Papua Selatan.
Menurutnya, setiap program harus memiliki tujuan, pengelola, pasar, serta manfaat yang jelas. Dengan begitu, pengembangan budaya tidak berhenti sebagai proyek sesaat, tetapi dapat menjadi kekuatan sosial dan ekonomi yang dikelola masyarakat.
“Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat Wanam semakin dikenal, tetapi memastikan masyarakat adat tetap menjadi pemilik, pengelola sekaligus penerima manfaat utama dari perubahan yang berlangsung di wilayahnya.”






