Merauke – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura, Papua, melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengajak masyarakat mengurangi limbah makanan sejak dari sumbernya. Langkah tersebut dinilai penting untuk mendukung upaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Kepala DLH Kabupaten Jayapura Salmon Telenggen mengatakan penanganan sampah tidak bisa hanya bertumpu pada kebijakan maupun fasilitas pemerintah. Perubahan kebiasaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari juga dibutuhkan agar pengelolaan sampah berjalan efektif.
“Masyarakat juga memiliki peran penting dengan mulai bijak mengelola sampah dari diri sendiri, seperti mengurangi makanan yang terbuang, memilah sampah dari sumber, dan memastikan sampah yang dihasilkan dikelola dengan benar,” katanya dilansir dari Antara, Kamis (1/10/2026).
Menurut Salmon, pengurangan sisa makanan dapat diterapkan melalui kebiasaan sederhana. Masyarakat dapat mengambil makanan sesuai kebutuhan, menghabiskan makanan yang sudah diambil, serta mengelola sisa makanan secara tepat.
“Pada Selasa (29/9/2026) kami mengelar Talkshow Susut dan Sisa Pangan dengan tema ‘Ko Bijak Pangan, Ko Selamatkan Bumi’ yang digelar bersama WWF-Indonesia di mana kegiatan tersebut melibatkan Sekolah Adiwiyata, komunitas, dan perwakilan instansi pemerintah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pembahasan mengenai susut dan sisa pangan tidak sebatas pada makanan yang berakhir menjadi sampah. Persoalan tersebut juga menyangkut keterlibatan sekolah, komunitas, instansi pemerintah, dan masyarakat dalam mengurangi limbah sejak dari sumbernya.
Sementara itu, Perwakilan Staf Waste Management Specialist WWF-Indonesia Program Papua Dony Kristiawan mengatakan persoalan susut dan sisa pangan perlu menjadi bagian dari strategi pengelolaan lingkungan di daerah.
“Melalui Joint Workplan bersama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura, kami mendorong agar isu ini dapat diintegrasikan ke dalam upaya pengelolaan sampah dari sumber, sekaligus diperkuat melalui edukasi di masyarakat,” katanya.
Dony menilai Sekolah Adiwiyata dapat dimanfaatkan sebagai salah satu ruang edukasi untuk membangun kebiasaan mengelola pangan secara bijak. Edukasi tersebut dapat menyasar siswa, guru, maupun seluruh warga sekolah.
“Karena makanan yang terbuang tidak hanya menjadi persoalan sampah, tetapi juga menunjukkan adanya pemborosan sumber daya yang digunakan dalam proses produksi makanan,”ujarnya.












