MERAUKE – Tim 17 Ekspedisi Patriot IPB University bersama Pemerintah Kabupaten Merauke memperkuat penerapan inseminasi buatan sebagai salah satu strategi meningkatkan mutu genetik dan produktivitas sapi di daerah tersebut.
Penguatan program tersebut dibahas dalam kunjungan Tim 17 Ekspedisi Patriot IPB University ke Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan, dan Kesehatan Hewan Kabupaten Merauke, Selasa (8/9/2026).
Tim yang diketuai Dr. drh. Dwi Budiono, M.Si. memaparkan pelaksanaan sinkronisasi birahi dan inseminasi buatan (IB) yang saat ini dijalankan di Distrik Semangga.
Inseminasi buatan atau IB merupakan teknologi reproduksi ternak dengan memasukkan semen atau sperma dari pejantan unggul ke saluran reproduksi sapi betina tanpa melalui perkawinan alami.
Teknologi tersebut memungkinkan peternak memperoleh keturunan sapi dari pejantan dengan kualitas genetik terpilih, sehingga secara bertahap dapat meningkatkan mutu genetik, produktivitas, dan nilai ekonomi ternak.
Penerapan IB juga dinilai penting untuk mengurangi risiko perkawinan sedarah atau inbreeding, terutama pada populasi ternak dengan sumber pejantan yang terbatas. Jika berlangsung terus-menerus, perkawinan sedarah dapat memengaruhi kualitas genetik dan performa ternak yang dihasilkan.
Karena itu, penggunaan semen dari pejantan unggul melalui IB menjadi salah satu langkah strategis dalam memperbaiki kualitas populasi sapi di Merauke.
Pertemuan tersebut sekaligus menjadi tindak lanjut dari Workshop Penampungan, Evaluasi, dan Pengenceran Semen Ternak yang sebelumnya dilaksanakan Tim 17 Ekspedisi Patriot IPB University pada 24 Agustus 2026.
Workshop tersebut membekali peserta dengan kemampuan teknis mulai dari penampungan semen, pemeriksaan kualitas semen hingga teknik pengenceran untuk mendukung pelayanan reproduksi ternak.
Penguasaan keterampilan tersebut juga menjadi langkah antisipatif ketika ketersediaan semen beku untuk pelaksanaan inseminasi buatan mengalami keterbatasan pada periode tertentu.
Kabid Sarana, Prasarana dan Penyuluhan Peternakan, Francina F.I. Rumlus, S.Pt., mengatakan penerapan inseminasi buatan di Merauke telah menunjukkan hasil yang dapat dilihat dari kualitas ternak yang dihasilkan.
Salah satu contoh keberhasilan tersebut terlihat pada sapi hasil program IB yang memiliki kualitas baik hingga terpilih untuk dibeli Presiden pada momentum Idul Adha.
“Keberhasilan program IB salah satunya dapat dilihat dari kualitas sapi yang dihasilkan. Pada Idul Adha lalu, sapi hasil IB bahkan berhasil dibeli oleh Presiden,” ujar Francina.
Menurutnya, keberhasilan inseminasi buatan tidak hanya bergantung pada kualitas semen yang digunakan. Kompetensi tenaga inseminator, kemampuan membaca waktu birahi serta kondisi kesehatan ternak juga menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan program.
Karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan teknologi reproduksi ternak di Merauke.
Tim 17 Ekspedisi Patriot IPB University bersama Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan, dan Kesehatan Hewan Kabupaten Merauke selanjutnya akan memperkuat kolaborasi melalui pelatihan dan edukasi mengenai kesehatan ternak, sinkronisasi birahi serta inseminasi buatan.
Kegiatan tersebut akan melibatkan mantri kesehatan hewan di Distrik Semangga, Supoyo dan Yani Suryani, sebagai bagian dari penguatan pelayanan dan pendampingan langsung kepada peternak.
Pelibatan tenaga kesehatan hewan di tingkat distrik diharapkan membuat transfer pengetahuan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan di lapangan.
Peternak juga diharapkan semakin memahami tanda-tanda birahi, waktu yang tepat untuk melakukan inseminasi, kondisi kesehatan ternak hingga perawatan setelah pelaksanaan IB.
Kolaborasi antara Tim 17 Ekspedisi Patriot IPB University, Pemerintah Kabupaten Merauke, tenaga kesehatan hewan dan peternak diharapkan dapat memperkuat ekosistem peternakan sapi yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Melalui penerapan inseminasi buatan yang didukung tenaga terampil dan pendampingan yang konsisten, Merauke memiliki peluang semakin besar untuk menghasilkan sapi dengan mutu genetik lebih unggul, produktivitas lebih baik serta nilai ekonomi yang semakin kompetitif.












