by

BPBD Papua Barat Upayakan Modifikasi Cuaca untuk Atasi Karhutla

Merauke – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Papua Barat mengupayakan operasi modifikasi cuaca (OMC) dan pemadaman melalui udara untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda sejumlah wilayah.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Papua Barat Danang Tri Soesilo mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan BP LNG Tangguh guna mendukung penanganan karhutla melalui jalur udara.

“Kami sedang membangun komunikasi untuk penanganan melalui udara, baik dengan skema water bombing maupun operasi modifikasi cuaca,” kata Danang di Manokwari, dilansir Antara, Selasa (6/10/2026).

Menurutnya, pemadaman dari udara diperlukan karena penanganan melalui jalur darat menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan personel dan peralatan hingga sulitnya akses menuju lokasi kebakaran.

Kondisi tersebut terjadi di Kabupaten Fakfak, terutama pada wilayah yang ditumbuhi alang-alang dan kawasan berlahan gambut sehingga api sulit dipadamkan.

“Pemadaman yang dilakukan menggunakan peralatan di darat sangat susah karena banyak hambatan, makanya kami butuh skema operasi modifikasi cuaca atau OMC,” ujarnya.

Fakfak Catat 659 Titik Panas

Danang menjelaskan, pada September 2026 BPBD Papua Barat sebelumnya memperoleh bantuan dua helikopter water bombing dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan LNG Tangguh untuk memadamkan karhutla.

Setelah operasi penanganan saat itu dinyatakan selesai, kedua helikopter dialihkan ke Kalimantan. Namun, pemantauan per 1 Oktober 2026 kembali menunjukkan tingginya jumlah titik panas di sejumlah kabupaten di Papua Barat.

“Fakfak menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 659 titik, sementara kebakaran juga masih terpantau di Kabupaten Teluk Bintuni,” kata Danang.

Secara keseluruhan, tercatat 1.294 titik panas di sejumlah wilayah Papua Barat pada periode pemantauan tersebut.

Selain kebakaran, kabut asap juga menyelimuti beberapa daerah, termasuk Manokwari. Kondisi itu dipengaruhi pergerakan massa udara yang membawa asap dari Papua Selatan dan Papua Nugini (PNG).

Untuk mengetahui perkembangan kondisi tersebut, BPBD Papua Barat berkoordinasi dengan BPBD Merauke, Papua Selatan, guna memantau sebaran kabut asap yang bergerak mengikuti arah angin hingga mencapai wilayah Kepala Burung.

“Berdasarkan pemantauan per 1 Oktober 2026, wilayah Papua Selatan tercatat memiliki 2.658 titik panas yang sebagian besar terpantau di Kabupaten Merauke,” ucap Danang.

BPBD Papua Barat terus memantau perkembangan titik panas dan pergerakan kabut asap. Hasil pemantauan tersebut menjadi dasar koordinasi dengan pemerintah pusat dan pihak terkait dalam menentukan langkah penanganan karhutla di wilayah tersebut.