MERAUKE — Tim 17 Ekspedisi Patriot IPB University memperkenalkan Flytraktan, inovasi atraktan berbahan sederhana yang dirancang sebagai pendukung pengendalian lalat di lingkungan kandang ternak, dalam Festival Kali Maro IV di Kampung Urumb, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, Kamis (1/10/2026).
Pengenalan Flytraktan menjadi bagian dari upaya Tim 17 membawa inovasi yang berangkat dari persoalan nyata yang dijumpai selama pendampingan peternak di Merauke. Salah satu persoalan tersebut ialah keberadaan lalat dalam jumlah tinggi di sekitar kandang sapi yang dapat mengganggu kenyamanan ternak maupun aktivitas peternak.
Flytraktan dibuat menggunakan bahan yang relatif mudah diperoleh masyarakat, yakni ragi, terasi, dan gula. Bahan tersebut difermentasi sehingga menghasilkan aroma yang menarik lalat mendekati atraktan dan masuk ke dalam perangkap yang telah disiapkan.
Kesederhanaan bahan dan proses pembuatannya menjadi salah satu keunggulan yang ingin diperkenalkan kepada masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, peternak diharapkan tidak hanya mengenal inovasi, tetapi juga memahami teknologi sederhana yang berpotensi diterapkan sesuai kebutuhan dan kondisi kandang masing-masing.
Dalam Festival Kali Maro IV, Tim 17 tidak sekadar memamerkan produk. Pengunjung yang mendatangi stan Ekspedisi Patriot IPB University juga mendapatkan penjelasan mengenai bahan penyusun Flytraktan, proses pembuatan, cara penggunaan, serta fungsinya sebagai salah satu alternatif pendukung pengendalian lalat di lingkungan peternakan.
Pendekatan edukatif tersebut menjadi penting karena pengendalian lalat tidak hanya berkaitan dengan pemasangan perangkap, tetapi juga perlu didukung pengelolaan kebersihan kandang dan lingkungan secara baik.
Kehadiran Flytraktan turut menarik perhatian pengunjung festival. Salah seorang pengunjung, Risa, menilai inovasi tersebut menarik karena menggunakan bahan sederhana yang mudah dijumpai masyarakat.
“Flytraktan merupakan inovasi yang menarik karena memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang mudah diperoleh masyarakat. Produk seperti ini bagus untuk terus dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di lapangan,” ujar Risa.
Bagi Tim 17 Ekspedisi Patriot IPB University, pengenalan Flytraktan juga menjadi bagian dari proses transfer pengetahuan kepada masyarakat. Inovasi yang dibawa tidak diarahkan berhenti pada produk, tetapi diharapkan dapat dipahami, diuji penerapannya, dan dikembangkan lebih lanjut bersama masyarakat berdasarkan kondisi peternakan setempat.
Pendekatan tersebut sejalan dengan kegiatan pendampingan Tim 17 di sektor peternakan Merauke yang menempatkan identifikasi persoalan lapangan, penerapan ilmu pengetahuan, serta penguatan kapasitas masyarakat sebagai bagian yang saling berkaitan.
Festival Kali Maro IV pun menjadi ruang untuk mempertemukan inovasi perguruan tinggi dengan masyarakat secara langsung. Melalui momentum tersebut, teknologi yang dikembangkan dari persoalan di tingkat peternak dapat diperkenalkan dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami.
Ke depan, Flytraktan diharapkan dapat terus dikembangkan dan dievaluasi penggunaannya sehingga dapat menjadi salah satu pilihan teknologi sederhana dalam mendukung pengelolaan lingkungan kandang yang lebih bersih dan nyaman bagi ternak maupun peternak.











