MERAUKE – Peningkatan kualitas pendidikan di Papua Selatan membutuhkan penguatan kompetensi guru, termasuk dalam menerapkan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Menjawab kebutuhan tersebut, Tim 20 Ekspedisi Patriot IPB University menggelar pelatihan Pembelajaran Mendalam dan penyusunan perangkat kokurikuler bagi 20 guru dari berbagai satuan pendidikan di Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Kamis (8/10/2026).
Kegiatan bertajuk Sekolah Pembelajaran Partisipatif dan Pengembangan Karakter Guru yang berlangsung di Aula SMP Negeri 3 Merauke tersebut difokuskan pada peningkatan kemampuan pendidik dalam merancang pembelajaran yang kontekstual, partisipatif, dan berbasis kearifan lokal.
Pelatihan ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya akses sebagian guru di Distrik Semangga terhadap sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan teknis mengenai penerapan kebijakan pembelajaran. Kondisi tersebut menjadi perhatian Tim Ekspedisi Patriot dalam mendorong penguatan kapasitas pendidik agar mampu mengembangkan proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik sekolah.
Ketua Tim 20 Ekspedisi Patriot IPB University, Iqbal Irfany, menegaskan bahwa peningkatan kompetensi guru merupakan langkah penting dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas.
“Kemajuan suatu daerah ditentukan oleh manusianya, dan kualitas manusia dibentuk melalui pendidikan yang berkualitas. Karena itu, guru bukan hanya membagikan pengetahuan, tetapi juga mengembangkan karakter, meningkatkan rasa percaya diri, dan membuka masa depan anak-anak,” ujar Iqbal.
Menurutnya, peran guru tidak terbatas pada penyampaian materi pelajaran, tetapi juga mencakup pembentukan karakter dan pengembangan potensi peserta didik sebagai fondasi pembangunan daerah.
Pelatihan menghadirkan dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Musamus, Ninik Munfarikha, sebagai narasumber. Ia memaparkan konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang menekankan tiga prinsip utama, yakni pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Pendekatan tersebut mengintegrasikan olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga untuk mendukung pengembangan delapan dimensi profil lulusan, meliputi keimanan dan ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, serta komunikasi.
Dalam penerapannya, guru dapat memanfaatkan pembelajaran berbasis proyek, pemecahan masalah, inkuiri, maupun pembelajaran berdiferensiasi. Penilaian juga diarahkan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis, pemahaman konsep, dan penerapan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, bukan semata-mata penguasaan teori.
Selain Pembelajaran Mendalam, peserta mendapatkan pendampingan mengenai penyusunan perangkat kokurikuler berdasarkan Panduan Implementasi Kokurikuler 2025. Materi mencakup perencanaan kegiatan lintas disiplin ilmu, penguatan karakter melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, serta pemanfaatan potensi lingkungan dan budaya setempat sebagai sumber pembelajaran.
Pemanfaatan kearifan lokal menjadi salah satu perhatian dalam pelatihan tersebut. Melalui pengembangan kegiatan kokurikuler, guru didorong menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan sosial, budaya, dan lingkungan peserta didik sehingga proses pendidikan lebih relevan dengan kondisi masyarakat setempat.
Tidak hanya menerima materi, para guru mengikuti simulasi penyusunan perangkat kokurikuler, mulai dari mengidentifikasi kebutuhan sekolah, menentukan tema, merancang aktivitas, hingga menyusun instrumen asesmen. Kegiatan praktik tersebut ditujukan agar peserta memiliki bekal yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran di sekolah masing-masing.
Salah satu peserta, Karolus Bambang, guru SD YPPK Yos Sudarso, mengapresiasi pelatihan tersebut karena memberikan pemahaman mengenai pengembangan kegiatan kokurikuler yang berorientasi pada keterampilan peserta didik.
“Melalui kokurikuler, saya ingin lulusan murid saya bukan hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga memiliki keterampilan yang bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Karolus.
Sebagai tindak lanjut, Tim 20 Ekspedisi Patriot IPB University berencana memfasilitasi pendampingan berkelanjutan melalui kolaborasi antara guru dan narasumber. Pendampingan tersebut mencakup penyusunan tema, penjadwalan kegiatan, pengembangan instrumen asesmen, serta pelaporan pelaksanaan kokurikuler.
Langkah ini diharapkan dapat membantu para guru menerapkan hasil pelatihan secara berkelanjutan sekaligus memperkuat kualitas pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan karakteristik wilayah.
Melalui penguatan kompetensi guru dan pemanfaatan potensi lokal dalam pembelajaran, Tim Ekspedisi Patriot IPB University berupaya mendukung peningkatan mutu pendidikan di Distrik Semangga serta mendorong pengembangan sumber daya manusia di Papua Selatan.












