Merauke – Sebanyak 6.702 titik panas terdeteksi di Papua Selatan hingga 11 Oktober 2026, dengan sebagian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berada di wilayah terpencil yang sulit dijangkau petugas. Sebaran asap dari kebakaran tersebut meluas hingga Maluku dan Maluku Utara, sementara gangguan jarak pandang mulai berdampak pada operasional penerbangan di Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), titik panas tersebar di wilayah perbatasan Indonesia dengan Papua Niugini, terutama di Kabupaten Boven Digoel, Mappi, dan Merauke. Sejumlah lokasi kebakaran sulit diakses karena keterbatasan transportasi dan kondisi geografis.
Kepala Seksi Kesiapsiagaan dan Pencegahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua Selatan Kastaji mengatakan beberapa distrik di Merauke, seperti Kaptel, Ilwayab, dan Kimam, memiliki akses yang terbatas. Perjalanan menuju kawasan tersebut bahkan membutuhkan waktu sekitar satu jam menggunakan pesawat dari pusat kota.
“Di Merauke, misalnya, ada sejumlah distrik yang tidak bisa dijangkau karena berbagai keterbatasan, seperti Kaptel, Ilwayab, hingga Kimam. Itu daerah-daerah jauh dan menggunakan pesawat bisa satu jam dari kota,” ujar Kastaji dikutip dari Kompas.id, Senin (12/10/2026).
Meski jumlah titik panas cukup tinggi, Kastaji menyebut luasan lahan yang terbakar sejauh ini relatif kecil. Area kebakaran rata-rata berkisar 5–10 hektare dan cenderung terhenti ketika mencapai kawasan rawa, sungai, atau parit.
“Titiknya memang banyak, tetapi untuk luas lahan kebakaran relatif tidak meluas seperti Kalimantan atau Sumatera, karena biasanya di sini akan terhenti di rawa, sungai, atau parit,” kata Kastaji.
Kondisi kabut asap di Papua Selatan juga berubah-ubah dalam beberapa hari terakhir. Pada situasi terburuk, jarak pandang di Merauke dilaporkan sekitar 100 meter, sedangkan di Boven Digoel mencapai 50 meter.
“Situasinya dalam beberapa waktu terakhir ini fluktuatif. Kadang sehari asapnya tebal, sehari kemudian membaik. Jumat kemarin sudah ada rapat, tetapi untuk status tanggap darurat belum ditentukan,” ucap Kastaji.
Sebaran asap meluas ke sejumlah provinsi
Kepala Stasiun Meteorologi Mopah Merauke Wahyu Hidayat menjelaskan, arah angin turut mendorong asap menyebar ke wilayah lain. Angin bertiup dari tenggara menuju barat laut dan timur laut dengan kecepatan sekitar 15–25 knot.
Sebaran asap terpantau mencapai Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Barat, Papua Barat Daya, Maluku, hingga Maluku Utara. Selain kebakaran di wilayah Indonesia, asap juga diduga berasal dari kebakaran di kawasan perbatasan Papua Niugini.
”Selain asap kebakaran di wilayah kita, asap tebal dan semakin meluas ini juga disumbangkan kebakaran di perbatasan, termasuk yang dari wilayah Papua Niugini,” katanya.
Penanganan karhutla menghadapi tantangan karena kondisi kemarau masih berlangsung. Wahyu memperkirakan kemarau yang diperkuat fenomena El Nino kuat masih akan berlanjut selama dua hingga tiga bulan ke depan di Papua Selatan.
”Kemarau dan El Nino kuat masih berlangsung 2-3 bulan ke depan di wilayah Papua Selatan,” ujar Wahyu.
5 penerbangan penumpang dan kargo ke Wamena dibatalkan
Dampak asap mulai dirasakan di wilayah Papua, termasuk Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura. Meski demikian, data BMKG per 11 Oktober 2026 menunjukkan jumlah titik panas di Provinsi Papua tercatat sebanyak 10 titik.
Gangguan jarak pandang turut memengaruhi aktivitas penerbangan di Bandara Sentani. Sejumlah penerbangan mengalami keterlambatan hingga pembatalan sejak Minggu (11/10/2026), berlanjut sampai Senin pagi.
Pelaksana Tugas Relation Department Head Bandara Sentani, Syahrial S. Sembiring, mengatakan lima penerbangan penumpang dan kargo dari dan menuju Wamena, Kabupaten Jayawijaya, dibatalkan pada Senin pagi.
“Hari ini angkanya masih terus bergerak. Pada Senin pagi ada lima penerbangan penumpang dan kargo dari dan ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya, dibatalkan,” ujar Syahrial.
Sementara itu, Ketua Tim Layanan Publik BMKG V Finnyalia Napitupulu menyampaikan bahwa citra satelit belum mendeteksi kabut asap di wilayah Jayapura. Namun, secara visual, kabut telah terlihat di sejumlah lokasi.
Finnyalia mengatakan asal kabut tersebut belum dapat dipastikan. Salah satu kemungkinan yang tengah diperhatikan adalah asap dari kebakaran di Papua Niugini, mengingat citra menunjukkan titik panas di wilayah tengah negara tersebut dan kawasan perbatasan dengan Papua Selatan.
“Secara spasial, ada kemungkinan dari Papua Niugini. Apalagi angin yang bergerak saat ini angin timuran. Namun, untuk kabut asapnya belum terbaca citra satelit, ini kemungkinan partikulatnya masih tipis. Asapnya masih dalam kategori aman,” katanya.











