Merauke – Generasi muda Papua Selatan didorong mengambil peran lebih besar dalam pembangunan daerah, mulai dari mengembangkan potensi ekonomi lokal hingga terlibat dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.
Akademisi dan praktisi ekologi politik dari Algemeene Studie Club sekaligus anggota Tim Ekspedisi Patriot IPB University, Bagus Karyo Widhiasto, S.Hut., M.Si., menilai penguatan kapasitas dan kemandirian pemuda menjadi faktor penting agar pembangunan dapat memberikan manfaat yang merata dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Bagus dalam Dialog Kebangsaan bertema “Sumpah Pemuda, Suara Pemuda Papua: Mendorong Pemuda Lokal Menjadi Pelaku Pembangunan” yang diselenggarakan Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) di RKD Coffee, Merauke, Papua Selatan, Rabu (28/10/2026).
Dalam forum tersebut, Bagus mengajak generasi muda memaknai semangat Sumpah Pemuda sebagai tanggung jawab untuk menjaga persatuan sekaligus memastikan kemerdekaan membawa keadilan sosial dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Ia menjelaskan, generasi 1928 berperan dalam membangun persatuan bangsa, sedangkan generasi 1945 memperjuangkan kemerdekaan. Adapun generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan tersebut melalui upaya mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial.
Pemuda Harus Menjadi Pelaku Pembangunan
Bagus menekankan pentingnya mengubah posisi pemuda dari objek menjadi subjek pembangunan. Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya menjadi penerima bantuan, peserta pelatihan, atau tenaga kerja, tetapi juga perlu memiliki kapasitas untuk mengidentifikasi persoalan, merumuskan solusi, mengelola sumber daya, dan terlibat dalam penentuan kebijakan.
Ia menilai keberhasilan pembangunan tidak semata-mata ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, besarnya investasi, maupun pembangunan infrastruktur. Pemerataan manfaat, akses terhadap sumber daya, serta keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan juga perlu menjadi perhatian.
“Kekayaan sumber daya alam tidak otomatis menjadi kesejahteraan masyarakat,” kata Bagus.
Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya memastikan potensi sumber daya daerah dapat memberikan manfaat bagi masyarakat setempat, termasuk generasi muda yang diharapkan menjadi bagian dari proses pembangunan.
Akses, Distribusi, dan Kekuasaan dalam Pembangunan
Untuk menjelaskan hubungan antara pembangunan dan kesejahteraan, Bagus menguraikan tiga dimensi dalam perspektif ekologi politik, yakni akses, distribusi, dan kekuasaan.
Akses berkaitan dengan kesempatan masyarakat memperoleh pendidikan, modal, teknologi, informasi, dan sumber daya produktif. Distribusi menyangkut pembagian manfaat, biaya, risiko, serta peluang yang muncul dari proses pembangunan.
Sementara itu, dimensi kekuasaan berkaitan dengan sejauh mana masyarakat dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka.
Dalam konteks Papua Selatan, Bagus mendorong pengembangan potensi daerah yang dibarengi dengan perluasan kesempatan kerja dan ruang usaha bagi pemuda lokal. Peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguasaan teknologi, serta keterlibatan masyarakat dalam perencanaan dan pengawasan dinilai penting untuk memperluas pemerataan manfaat pembangunan.
Ia juga menekankan pentingnya menghormati identitas, kebudayaan, pengetahuan, dan kelembagaan masyarakat lokal. Menurutnya, persatuan bangsa perlu berjalan beriringan dengan pengakuan terhadap keberagaman dan kesetaraan kesempatan dalam kehidupan sosial, ekonomi, maupun politik.
Empat Modal untuk Memperkuat Peran Pemuda
Dalam pemaparannya, Bagus menawarkan empat modal utama yang perlu dikembangkan generasi muda, yaitu modal intelektual, sosial, ekonomi, dan politik.
Modal intelektual dapat diperkuat melalui budaya literasi, diskusi, penelitian, serta kemampuan berpikir kritis. Modal sosial dibangun melalui organisasi, jejaring, dan solidaritas antarkelompok.
Adapun modal ekonomi dapat dikembangkan melalui kegiatan produktif yang memanfaatkan potensi lokal. Sementara itu, modal politik mencakup pemahaman terhadap kebijakan, anggaran, kelembagaan, dan mekanisme pengambilan keputusan.
Penguatan keempat modal tersebut diharapkan meningkatkan kapasitas, kemandirian, dan daya tawar pemuda. Dengan begitu, generasi muda dapat berkontribusi dalam pembangunan sekaligus menyampaikan dan memperjuangkan kepentingan masyarakat secara konstruktif.
Lima Agenda Penguatan Peran Pemuda
Bagus juga mendorong lima agenda untuk memperkuat keterlibatan generasi muda, meliputi pengembangan ruang intelektual, penguatan organisasi yang demokratis dan mandiri, kemandirian ekonomi, partisipasi dalam kebijakan publik, serta solidaritas sosial.
Agenda tersebut dapat diwujudkan melalui kegiatan literasi dan kajian kebijakan daerah, pengembangan usaha berbasis potensi lokal, keterlibatan dalam musyawarah perencanaan pembangunan, serta kolaborasi lintas kampung, suku, organisasi, dan generasi.
Menurutnya, organisasi kepemudaan perlu menjadi ruang untuk mengembangkan pengetahuan, kepemimpinan, dan kerja sama yang menghasilkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Dengan keterlibatan yang lebih luas, pemuda diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga mampu menyampaikan aspirasi, mengembangkan inisiatif, dan ikut menentukan prioritas pembangunan di daerahnya.
Momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pun menjadi kesempatan bagi generasi muda Papua Selatan untuk memperkuat kapasitas dan kemandirian serta memperluas kontribusi terhadap kemajuan daerah dan bangsa.
“Pemuda harus berpengetahuan, terorganisasi, mandiri secara ekonomi, dan memiliki daya tawar dalam menentukan masa depan bangsanya,” tegas Bagus.











