Merauke – Ketua Ikatan Mahasiswa Pelajar Kalai Anim (IMPKA), Emanuel Talpia Yolmen, mengajak generasi muda Papua Selatan mengambil peran aktif dalam pembangunan di tanah kelahiran mereka. Menurutnya, pemuda perlu hadir sebagai bagian dari solusi atas berbagai persoalan masyarakat, termasuk pendidikan, pelestarian budaya, dan perlindungan hak masyarakat adat.
Pesan tersebut disampaikan Emanuel dalam Dialog Kebangsaan bertema “Sumpah Pemuda, Suara Pemuda Papua: Mendorong Pemuda Lokal Menjadi Pelaku Pembangunan” yang digelar Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) di RKD Coffee, Merauke, Rabu (28/10/2026).
Dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Emanuel menegaskan bahwa organisasi kepemudaan seharusnya tidak hanya menjalankan kegiatan seremonial. Organisasi perlu menjadi tempat bagi anak muda untuk belajar, mengasah keterampilan, merumuskan gagasan, dan membangun kepemimpinan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia menempatkan pendidikan sebagai fondasi penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Papua Selatan. Pendidikan, menurutnya, tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga perlu membentuk karakter, menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, serta mendorong keberanian generasi muda dalam menyampaikan pendapat.
Emanuel turut mendorong mahasiswa agar berperan dalam mendampingi pelajar tingkat SMP dan SMA. Pendampingan melalui kegiatan belajar dan pengembangan diri dinilai penting untuk menyiapkan calon pemimpin masa depan sekaligus membantu generasi muda mengenali dan mengembangkan potensi mereka sejak dini.
Melalui IMPKA, ia berupaya memperkuat solidaritas mahasiswa dan pelajar Kalai Anim. Organisasi tersebut diharapkan menjadi wadah kaderisasi yang tidak hanya membangun kapasitas anggotanya, tetapi juga mampu merespons kebutuhan masyarakat.
Dorong Perlindungan Hak Masyarakat Adat Wanam
Selain pendidikan dan pengembangan pemuda, Emanuel menyoroti perlindungan hak masyarakat adat di Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke.
Ia mendorong pemerintah memperkuat perlindungan terhadap masyarakat adat, terutama dalam hal kepastian hak atas tanah ulayat, keberlangsungan ruang hidup, serta pelibatan warga dalam setiap proses pembangunan yang berdampak pada kehidupan mereka.
Emanuel berpandangan bahwa pembangunan perlu berjalan dengan menghormati hak dan kepentingan masyarakat adat. Karena itu, warga setempat harus memiliki ruang yang memadai untuk menyampaikan aspirasi dan terlibat dalam pengambilan keputusan terkait wilayah serta masa depan mereka.
Menurutnya, kepedulian terhadap masyarakat adat juga menjadi tanggung jawab generasi muda. Mahasiswa dan organisasi kepemudaan perlu memperluas kegiatan sosial hingga ke kampung-kampung dan wilayah terpencil, sehingga kontribusi mereka tidak hanya dirasakan di kawasan perkotaan.
Jaga Budaya Malind dan Perkuat Solidaritas
Emanuel juga mengajak pemuda Malind menjaga identitas budaya sebagai warisan leluhur. Pelestarian kesenian, tarian adat, dan nilai-nilai kebudayaan perlu terus diperkuat melalui kolaborasi antara organisasi kepemudaan dan komunitas masyarakat.
Di tengah beragam persoalan sosial, ia turut menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kekeluargaan. Perbedaan pandangan maupun kepentingan, menurutnya, tidak seharusnya menjadi penghalang bagi solidaritas. Sebaliknya, perbedaan perlu dikelola melalui komunikasi dan kerja sama.
Emanuel berharap momentum Sumpah Pemuda dapat mendorong lahirnya generasi muda Kalai Anim yang berpendidikan, terampil, serta memiliki kepedulian terhadap kondisi masyarakat di sekitarnya.
Baginya, keberhasilan pemuda tidak cukup diukur dari keaktifan dalam organisasi. Kontribusi juga perlu terlihat melalui manfaat nyata bagi masyarakat, upaya menjaga identitas budaya, serta keterlibatan dalam menentukan masa depan Merauke dan Papua Selatan.











