Merauke – Presiden Mahasiswa Universitas Musamus (Unmus), Amrullah Aming, mengajak mahasiswa di Papua Selatan memperkuat budaya membaca, berdiskusi, dan berpikir kritis sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Menurut Amrullah, tradisi intelektual menjadi modal penting agar mahasiswa tidak hanya mengejar gelar akademik, tetapi juga mampu menghasilkan gagasan dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah.
Ajakan tersebut disampaikan dalam Dialog Kebangsaan bertema “Sumpah Pemuda, Suara Pemuda Papua: Mendorong Pemuda Lokal Menjadi Pelaku Pembangunan” yang diselenggarakan Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) di RKD Coffee, Merauke, Papua Selatan, Rabu (28/10/2026).
Dalam momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Amrullah menegaskan bahwa semangat persatuan yang diwariskan para pemuda pada 1928 perlu diwujudkan melalui peningkatan kapasitas diri, penguatan kepemimpinan, dan kepedulian terhadap berbagai persoalan masyarakat.
“Kampus bukan sekadar tempat meraih gelar akademik, tetapi juga ruang untuk membangun karakter, mengembangkan pemikiran kritis, dan melahirkan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Amrullah.
Ia menilai, perguruan tinggi perlu menjadi ruang berkembangnya aktivitas intelektual melalui diskusi, kajian ilmiah, dan pertukaran gagasan. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan mampu memahami persoalan publik secara lebih mendalam sekaligus merumuskan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Selain mendorong penguatan budaya literasi, Amrullah mengajak organisasi mahasiswa, baik internal maupun eksternal kampus, meningkatkan kolaborasi dan mengesampingkan ego sektoral.
Menurutnya, kerja sama lintas organisasi dapat memperluas perspektif, mengasah kemampuan kepemimpinan, serta membuka lebih banyak ruang bagi mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan sosial dan pembangunan.
Dalam konteks Papua Selatan, Amrullah memandang Universitas Musamus memiliki peran strategis dalam menyiapkan SDM yang mampu menjawab kebutuhan daerah. Pengetahuan yang diperoleh mahasiswa di bangku kuliah diharapkan tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi berkembang menjadi kajian, inovasi, dan kegiatan pengabdian yang bermanfaat bagi masyarakat.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga kebebasan berpikir dan kebebasan akademik di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, ruang akademik yang terbuka terhadap dialog dan perbedaan pandangan menjadi landasan untuk mengembangkan kreativitas, kemandirian intelektual, serta tanggung jawab sosial mahasiswa.
Melalui momentum Sumpah Pemuda, Amrullah mengajak mahasiswa membangun kesadaran kolektif dan menjadikan organisasi sebagai wadah pembelajaran, kaderisasi kepemimpinan, serta pengembangan kepedulian terhadap persoalan publik.
Ia berharap semangat persatuan generasi muda dapat diwujudkan melalui karya, kolaborasi, dan keterlibatan aktif mahasiswa dalam menjawab tantangan pembangunan di Merauke dan Papua Selatan.
Dengan memperkuat tradisi intelektual dan memperluas keterlibatan sosial, mahasiswa diharapkan mampu mengambil peran sebagai pelaku perubahan yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus berkontribusi terhadap kemajuan bangsa.











