by

Pendulangan Emas dari Sisa Tambang Freeport di Mimika Makin Marak

Merauke – Aktivitas pendulangan emas tradisional dengan memanfaatkan material sisa operasional PT Freeport Indonesia (PTFI) di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, dilaporkan semakin ramai. Tingginya harga emas disebut menjadi salah satu faktor yang mendorong warga berdatangan untuk mencari logam mulia dari material sisa tambang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, jumlah lokasi pendulangan yang sebelumnya diperkirakan sekitar 30 hingga 40 titik kini terus mengalami penambahan. Di setiap lokasi, aktivitas bahkan dapat melibatkan ratusan orang yang menyaring pasir dan lumpur untuk mendapatkan butiran emas.

Para pendulang datang dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Orang Asli Papua (OAP). Mereka melakukan aktivitas tersebut di sejumlah kawasan yang berada di sekitar maupun jauh dari Kota Timika.

“Sekarang sudah semakin banyak titik dan jumlah pendulang juga semakin banyak dan berdatangan dari berbagai daerah,” ujar Amir, salah seorang pendulang di wilayah Mile 21, Rabu (23/9/2026).

Amir, warga asal Sulawesi yang memiliki dua anak, mengatakan cara pendulangan kini mulai mengalami perubahan. Jika sebelumnya lebih banyak mengandalkan tenaga manual, sebagian pendulang telah menggunakan mesin untuk membantu mengeruk serta memindahkan material pasir.

Menurutnya, harga emas saat ini berada di kisaran Rp1,7 juta hingga Rp1,8 juta per gram. Nilai tersebut membuat aktivitas pendulangan semakin menarik bagi masyarakat karena hasil yang diperoleh dianggap cukup menguntungkan.

“Sekarang dulang tidak sepenuhnya andalkan fisik, tapi pakai mesin untuk mengeruk pasir,” katanya.

Penggunaan mesin juga disebut berdampak pada jumlah emas yang dapat diperoleh. Amir mengaku bersama rekan-rekannya bisa mendapatkan sekitar 5 hingga 10 gram emas dalam sehari, meski hasil tersebut bergantung pada kondisi material yang ditemukan di lokasi pendulangan.

Pertumbuhan aktivitas pendulangan juga mulai mengubah kondisi kawasan di sekitar lokasi. Di wilayah yang letaknya cukup jauh dari Kota Timika, para pendulang mendirikan camp hingga pondok permanen untuk digunakan sebagai tempat tinggal selama menjalankan aktivitas.

Berbeda dengan pendulang di kawasan yang lebih dekat, seperti Mile 21. Sebagian dari mereka memilih kembali ke rumah masing-masing di Kota Timika setelah menyelesaikan kegiatan pada sore hari.

“Kami di Mile 21 banyak juga yang langsung pulang ke Timika saat sore hari karena lumayan dekat. Tapi mereka yang mendulang di mile jauh itu pastinya ada camp, bahkan pondok permanen,” jelasnya.

Bertambahnya lokasi pendulangan membuat sejumlah kawasan pengolahan material sisa tambang semakin ramai. Fenomena tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk memperoleh penghasilan dari material yang masih memiliki kandungan emas.

Selain jumlah pendulang yang meningkat, penggunaan mesin serta munculnya tempat tinggal sementara juga menjadi perubahan yang semakin terlihat di sejumlah kawasan pendulangan di Kabupaten Mimika.

News Feed