Merauke – Tim 13 Ekspedisi Patriot (TEP) IPB University mendorong pemanfaatan sagu sebagai produk pangan bernilai tambah melalui pelatihan pembuatan mi sagu di Laboratorium Terpadu Universitas Musamus, Merauke.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung diversifikasi pangan sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi masyarakat lokal melalui program Trans Patriot Kementerian Transmigrasi.
Ketua Tim 13 Ekspedisi Patriot IPB University, Ratih Kemala Dewi, mengatakan sagu memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan. Menurutnya, pemanfaatan pati sagu tidak harus terbatas pada makanan tradisional, tetapi dapat diarahkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan masa simpan lebih panjang, salah satunya mi sagu.
“Sagu memiliki nilai gizi yang sangat sehat, kandungan serat yang tinggi, serta nilai indeks glikemik yang sangat rendah sehingga sangat baik untuk kesehatan,” kata Ratih dikutip dari portal.merauke, Sabtu (26/9/2026).
Ia menilai pengembangan produk berbahan dasar sagu dapat menjadi salah satu langkah untuk memperluas pilihan sumber karbohidrat masyarakat sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal.
“Mudah-mudahan pelatihan ini menjadi awal dari proses pendampingan yang lebih panjang. Setelah mampu membuat mi sagu, kita perlu bersama-sama memikirkan bagaimana produk tersebut dapat dikembangkan, dikemas dengan baik, memenuhi standar keamanan pangan, memperoleh legalitas yang diperlukan, serta mampu menembus pasar lokal maupun pasar yang lebih luas,” ujar Ratih.
Apresiasi terhadap kegiatan tersebut disampaikan Ketua Program Studi Teknik Pertanian Universitas Musamus, Mega Ayu Yusuf. Ia menyebut kolaborasi tersebut membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas yang tersedia di Laboratorium Beras Analog dan Sagu Universitas Musamus.
“Sagu selama ini kita kenal hanya untuk pangan sehari-hari seperti papeda atau cendol sagu. Ternyata produk turunan sagu ini dapat meningkatkan nilai tambah dari sagu itu sendiri sehingga menjadi produk bernilai tinggi yang diharapkan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat,” tuturnya.
Pelatihan dipandu Pembina Pondok Sagu Metro Bogor, Agus Budiyanto. Peserta berasal dari Kelompok Tani Dwitrap, Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kampung Tambat, siswa SMKN 5 Merauke, serta mahasiswa Teknik Pertanian Universitas Musamus.
Sejumlah pihak turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Dharma Wanita Universitas Musamus, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Merauke, serta Dinas Ketahanan Pangan, Kesehatan Hewan, dan Peternakan Kabupaten Merauke.
Materi pelatihan tidak hanya berfokus pada proses pembuatan mi. Peserta juga mempraktikkan cara mengolah mi sagu agar tidak mudah lengket ketika dimasak, termasuk mempelajari penggunaan bumbu serta teknik pengemasan produk.
Antusiasme juga terlihat dari masyarakat Kampung Tambat yang mengikuti kegiatan melalui Kelompok Tani Dwitrap dan TP PKK. Salah satunya Siti Maria, penggerak PKK Kampung Tambat, yang mengaku memperoleh pengetahuan baru mengenai pemanfaatan sagu.
“Kami memang biasa membuat bahan makanan dari sagu untuk dikonsumsi sehari-hari, tapi yang biasa-biasa saja. Ternyata ada produk turunan lain dari yang berbahan dasar sagu yaitu mi sagu, dan itu sangat bermanfaat bagi kami ke depan,” ucap Siti.
Menurut Siti, tantangan yang masih dihadapi masyarakat adalah ketersediaan peralatan produksi. Saat ini, mesin yang diperlukan untuk membuat mi sagu baru tersedia di Universitas Musamus.
Karena itu, ia berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dapat memberikan dukungan berupa fasilitas mesin produksi agar masyarakat dapat melanjutkan pengembangan mi sagu secara berkelanjutan, termasuk menyediakan peralatan untuk pengolahan beras analog berbahan dasar sagu.






