Wamena – Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan mendorong penguatan ketahanan keluarga melalui peningkatan kapasitas mitra dan organisasi kemasyarakatan yang bergerak di delapan kabupaten.
Upaya tersebut dijalankan melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Papua Pegunungan sebagai bagian dari strategi memperkuat pembangunan keluarga sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan masyarakat.
Kepala DP2KB Papua Pegunungan Isak Yikwa mengatakan penguatan kapasitas mitra menjadi bagian penting agar program pembangunan keluarga dapat berjalan lebih efektif di tingkat masyarakat.
“Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelatihan peningkatan kapasitas mitra dan organisasi kemasyarakatan dalam pengelolaan program ketahanan keluarga melalui bina keluarga lansia (BKL), usaha peningkatan pendapatan keluarga akseptor (UPPKA) dan pemberdayaan ekonomi keluarga (PEK) yang berlangsung,” katanya.
Menurut Isak, pelatihan tersebut diarahkan untuk membekali mitra dan organisasi kemasyarakatan agar mampu berperan lebih besar dalam memberikan pendampingan kepada keluarga serta menjalankan kegiatan pemberdayaan sesuai kebutuhan masyarakat.
Ia mengatakan penguatan kemampuan pengelola program juga diperlukan agar berbagai kegiatan ketahanan keluarga dapat memberikan dampak yang lebih nyata.
“Pelatihan tersebut juga menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman dan keterampilan para peserta dalam mengelola program ketahanan keluarga, khususnya melalui kelompok BKL, UPPKA dan PEK. Ketiga program tersebut memiliki keterkaitan erat dengan upaya membangun keluarga yang sehat, mandiri, produktif serta memiliki kemampuan menghadapi berbagai tantangan kehidupan,” ujarnya.
Staf Ahli Gubernur Papua Pegunungan Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia Deli Wandik menegaskan bahwa pembangunan keluarga memiliki posisi penting dalam membentuk masyarakat dan daerah yang kuat.
Menurut dia, ketahanan keluarga tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga menyangkut berbagai aspek kehidupan yang saling berhubungan.
“Pembangunan keluarga tidak dapat dipandang hanya dari sisi pemenuhan kebutuhan ekonomi. Ketahanan keluarga mencakup berbagai aspek yang saling berkaitan, mulai dari kesehatan, pendidikan, pengasuhan, perlindungan anggota keluarga, keharmonisan, hingga kemampuan keluarga dalam meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi,” katanya.
Deli menambahkan keluarga perlu memiliki kemampuan untuk berkembang secara sehat dan mandiri sekaligus menghadapi perubahan serta tantangan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks tersebut, keberadaan kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) dinilai menjadi salah satu bagian penting dalam upaya memperkuat perhatian terhadap anggota keluarga lanjut usia.
“Pentingnya keberadaan BKL sebagai salah satu instrumen dalam memperkuat ketahanan keluarga. Melalui BKL keluarga diharapkan mampu memberikan perhatian, pendampingan, serta perawatan yang baik kepada anggota keluarga yang telah memasuki usia lanjut,” ujarnya.











