MERAUKE — Tim 13 Ekspedisi Patriot (TEP) IPB University menggelar pelatihan produksi mi sagu di Laboratorium Terpadu Universitas Musamus, Merauke, Senin (21/9/2026).
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong diversifikasi pangan sekaligus membuka peluang peningkatan nilai ekonomi sagu melalui Program Trans Patriot Kementerian Transmigrasi.
Ketua Tim 13 Ekspedisi Patriot IPB University, Ratih Kemala Dewi mengatakan, pati sagu memiliki potensi besar untuk dikembangkan tidak hanya sebagai pangan tradisional, tetapi juga menjadi berbagai produk olahan bernilai tambah dan memiliki daya simpan lebih lama, salah satunya mi sagu.

Produk olahan tersebut diharapkan mampu memperluas pemanfaatan sagu sekaligus menjangkau pasar konsumen yang lebih luas.
“Sagu memiliki nilai gizi yang sangat sehat, kandungan serat yang tinggi, serta nilai indeks glikemik yang sangat rendah sehingga sangat baik untuk kesehatan,” kata Ratih saat memberikan sambutan.
Menurutnya, sagu merupakan salah satu alternatif sumber karbohidrat yang penting dalam mendukung diversifikasi pangan sehari-hari sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
“Mudah-mudahan pelatihan ini menjadi awal dari proses pendampingan yang lebih panjang. Setelah mampu membuat mi sagu, kita perlu bersama-sama memikirkan bagaimana produk tersebut dapat dikembangkan, dikemas dengan baik, memenuhi standar keamanan pangan, memperoleh legalitas yang diperlukan, serta mampu menembus pasar lokal maupun pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Ketua Program Studi Teknik Pertanian Universitas Musamus, Mega Ayu Yusuf mengapresiasi kolaborasi Tim 13 Ekspedisi Patriot IPB University dalam pengembangan produk mi sagu dengan memanfaatkan peralatan dan mesin yang tersedia di Laboratorium Beras Analog dan Sagu Universitas Musamus.
“Sagu selama ini kita kenal hanya untuk pangan sehari-hari seperti papeda atau cendol sagu. Ternyata produk turunan sagu ini dapat meningkatkan nilai tambah dari sagu itu sendiri sehingga menjadi produk bernilai tinggi yang diharapkan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat,” tuturnya.

Pelatihan produksi mi sagu dipandu Pembina Pondok Sagu Metro Bogor, Agus Budiyanto. Kegiatan diikuti anggota Kelompok Tani Dwitrap, Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kampung Tambat, siswa SMKN 5 Merauke, serta mahasiswa Teknik Pertanian Universitas Musamus.
Hadir pula Dharma Wanita Universitas Musamus, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Merauke, serta Dinas Ketahanan Pangan, Kesehatan Hewan, dan Peternakan Kabupaten Merauke.
Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya mempraktikkan proses produksi mi sagu, tetapi juga diajarkan cara memasak mi agar tidak lengket, menyiapkan bumbu, hingga mengemas produk.
Pelatihan mendapat respons antusias dari masyarakat Kampung Tambat, khususnya anggota Kelompok Tani Dwitrap dan TP PKK.
Penggerak PKK Kampung Tambat, Siti Maria mengatakan pelatihan tersebut memberikan keterampilan baru kepada masyarakat dalam mengembangkan produk turunan berbahan dasar sagu.
“Kami memang biasa membuat bahan makanan dari sagu untuk dikonsumsi sehari-hari, tapi yang biasa-biasa saja. Ternyata ada produk turunan lain yang berbahan dasar sagu yaitu mi sagu, dan itu sangat bermanfaat bagi kami ke depan,” ucap Siti.
Namun, menurut Siti, salah satu kendala yang masih dihadapi masyarakat dalam mengembangkan produksi mi sagu adalah keterbatasan peralatan dan mesin produksi yang saat ini baru tersedia di Universitas Musamus.
Untuk mendukung keberlanjutan produksi, ia berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dapat membantu memfasilitasi sarana produksi mi sagu, termasuk mesin pengolahan yang dapat digunakan masyarakat Kampung Tambat secara berkelanjutan.
Dengan dukungan peralatan, pendampingan produksi, pengemasan, legalitas, dan pemasaran, mi sagu diharapkan tidak hanya menjadi hasil pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi salah satu produk pangan lokal bernilai ekonomi bagi masyarakat Kampung Tambat. (Tam)












