Merauke – Festival Seni Budaya Mimika 2026 dinilai memberikan manfaat ekonomi bagi para pelaku ekonomi kreatif, terutama seniman dan pelaku kebudayaan lokal. Kegiatan yang digelar Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) tersebut menjadi ruang bagi pelaku seni untuk memasarkan hasil karya mereka.
Anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Tengah Thomas Mutaweyau mengatakan festival yang berlangsung pada 5-10 Oktober 2026 itu membuka kesempatan bagi sanggar seni untuk memperoleh pendapatan dari karya yang mereka hasilkan.
“Dengan festival ini para pengukir, penganyam, penari, penabuh tifa itu ada uang atau nilai ekonomi (income) yang mereka dapat, baik untuk grup, sanggar seninya, ataupun untuk keluarga. Intinya mereka bisa hidup dari seni yang ditekuni,” ujarnya di Kota Timika, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, dilansir Antara, Selasa (6/10/2026).
Thomas mendukung penyelenggaraan festival tersebut sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap keberadaan dan keberlangsungan pelaku seni di Mimika. Namun, ia berharap cakupan kegiatan ke depan dapat diperluas hingga menjangkau para pelaku seni yang berada di wilayah pesisir dan pegunungan Mimika.
“Saya melihat yang ada di sini masih sedikit karena hanya ada di Kota Timika dan sekitarnya, tetapi belum sampai ke kampung pesisir dan pegunungan yang ada di Mimika. Kami berharap kalau diadakan lebih besar lagi dan tentunya harus didukung dengan anggaran yang besar dari Pemkab Mimika,” tuturnya.
Seniman Pasarkan Karya Khas Kamoro
Pelaksanaan festival juga dimanfaatkan sejumlah sanggar untuk menawarkan berbagai hasil karya seni kepada pengunjung.
Paulinus Yauniyuta dari Sanggar Seni Pokai, Kampung Amamapare, Distrik Mimika Timur, mengatakan kegiatan tersebut memberikan kesempatan bagi sanggarnya untuk menjual karya ukir dan rajutan yang telah dibuat.
“Kami senang dengan kegiatan ini, karena kami dapat menjual hasil karya kami di sini,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Sabinus Kupakareyau dari Sanggar Titiri, Kampung Pomako, Distrik Mimika Timur. Ia berharap festival seni budaya dapat menjadi agenda rutin sehingga pemasaran karya para seniman dapat terus berkembang.
“Kami berharap kegiatan ini dapat dilaksanakan secara rutin setiap tahun dan berkelanjutan agar kami tetap memasarkan hasil karya kami,” ujarnya.
Paulinus dan Sabinus membawa sejumlah karya khas Suku Kamoro, antara lain patung dan miniatur rumah adat Karapau. Karya-karya tersebut ditawarkan dengan harga beragam, mulai dari Rp100 ribu hingga Rp25 juta per buah.
Salah satu karya dengan harga tertinggi adalah replika rumah adat Karapau, yang merupakan rumah adat Suku Kamoro, dengan harga mencapai Rp25 juta per unit.












