Merauke – Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan mengimbau masyarakat di delapan kabupaten untuk mewaspadai penurunan kualitas udara akibat asap kiriman dari sejumlah wilayah di Papua Selatan. Kondisi tersebut dilaporkan berdampak pada Kota Wamena dan beberapa wilayah lain di Papua Pegunungan.
Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Diskominfosantik) Papua Pegunungan, Lepianus Z Kogoya, mengatakan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi udara saat ini.
“Mari kita lebih waspada terhadap kondisi kualitas udara di Kota Wamena dan beberapa wilayah lainnya di Papua Pegunungan,” katanya dalam keterangan tertulis di Wamena, dikutip Antara, Senin (12/10/2026).
Lepianus menjelaskan, berdasarkan data IQAir yang dilampirkan, indeks kualitas udara di Wamena mencapai AQI 157 atau masuk kategori tidak sehat. Konsentrasi partikel halus PM2,5 tercatat sebesar 63,9 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
“Kondisi ini perlu menjadi perhatian serius karena dapat berdampak pada kesehatan, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, dan mereka yang memiliki gangguan pernapasan,” ujarnya.
Untuk mengurangi risiko paparan polusi, masyarakat diminta membatasi kegiatan di luar ruangan serta menghindari pembakaran lahan yang dapat memperburuk kualitas udara.
“Warga harus mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker N95/KN95 jika harus keluar. Kondisi udara mungkin tidak selalu terlihat berbahaya, tetapi partikel halus PM2,5 dapat masuk jauh ke dalam paru-paru,” katanya.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Wamena, Ricky R Holle, menyampaikan bahwa Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, diselimuti asap pada Minggu. Menurutnya, asap tersebut berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Papua Selatan.
“Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Papua Selatan telah merembet dan menembus wilayah Papua Pegunungan, Papua Tengah, akibat tiupan angin dan kondisi topografi,” kata Ricky.
Ia menerangkan, analisis pergerakan angin menunjukkan asap dari Papua Selatan bergerak dominan ke arah barat laut. Sebaran asap tersebut mengarah ke Papua Pegunungan, Papua Tengah, hingga Papua Barat.
Ricky juga menyebut kabut asap telah mencapai kawasan Taman Nasional Lorentz dan menyebabkan penurunan jarak pandang. Kondisi ini berpotensi mengganggu penerbangan lokal, khususnya pada rute yang melayani wilayah pegunungan dan dataran tinggi.
“Kabut asap telah mencapai wilayah Taman Nasional Lorentz, menurunkan jarak pandang, gangguan penerbangan penurunan jarak pandang (visibility) turut berdampak pada rute penerbangan lokal di sekitar wilayah pegunungan dan dataran tinggi. Disebutkan titik panas (hotspot) tercatat di Papua Selatan (terkonsentrasi di Merauke, Boven Digoel dan Asmat) yang dipicu oleh aktivitas pembukaan lahan,” tuturnya.












