by

2.026 Pemain Ukulele Meriahkan Festival Budaya Biak Melanesia, Bidik Rekor MURI

Merauke – Pemerintah Kabupaten Biak Numfor, Papua, menyiapkan penampilan kolosal 2.026 pemain ukulele dalam Pagelaran Simfoni Biak Numfor Bernyanyi. Pertunjukan tersebut menjadi salah satu agenda utama Festival Budaya Biak Melanesia yang dijadwalkan berlangsung pada 17–21 Oktober 2026.

Kepala Dinas Pariwisata Biak Numfor, Turbey O Dangeubun mengatakan, ribuan pemain yang terlibat berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak laki-laki dan perempuan, remaja, hingga orang dewasa. Mereka akan memainkan alat musik ukulele secara bersama-sama untuk memeriahkan festival budaya tersebut.

“Penampilan dua ribuan pemain Ukulele di ajang Festival Budaya Biak Melanesia 2026 akan dicatatkan dalam Museum Rekor Indonesia (MURI),” katanya dilansir Antara, Kamis (15/10/2026).

Menurut Turbey, antusiasme peserta tidak hanya datang dari masyarakat setempat. Sejumlah kabupaten dan komunitas dari luar Papua juga telah menyatakan keikutsertaannya dalam kegiatan tersebut.

Beberapa daerah yang dijadwalkan berpartisipasi antara lain Kabupaten Kaimana, Jayapura, Raja Ampat, Manokwari, dan Kepulauan Yapen. Selain itu, komunitas dari Jakarta turut menyatakan minat untuk hadir dalam festival tersebut.

“Untuk jumlah partisipan daerah yang hadir mengikuti Festival Budaya Biak Melanesia diperkirakan bisa bertambah karena panitia nasib terus melakukan promosi dan penjajakan ke berbagai daerah di wilayah Negara Pasifik,” tuturnya.

Turbey menambahkan, persiapan penyelenggaraan festival terus dilakukan, termasuk pengerjaan infrastruktur yang mengusung unsur budaya khas Papua. Berbagai fasilitas tersebut disiapkan untuk mendukung kelancaran acara sekaligus memperkuat identitas budaya daerah yang ditampilkan kepada pengunjung.

Festival Budaya Biak Melanesia diharapkan tidak hanya menjadi ruang untuk menampilkan kekayaan seni dan tradisi masyarakat, tetapi juga mendorong perkembangan kebudayaan di kawasan Melanesia.

“Sasaran Festival Budaya Biak Melanesia yakni mendorong kemajuan kebudayaan di Melanesia serta kerja sama untuk menggerakkan ekonomi kreatif bagi masyarakat lokal Papua,” pungkasnya.

Selain menghadirkan pertunjukan seni dan musik, panitia juga menyiapkan stan bernuansa tradisional Biak untuk mendukung aktivitas ekonomi kreatif. Fasilitas tersebut akan diperuntukkan bagi pelaku usaha, termasuk penjual kopi dengan keahlian barista serta pelaku ekonomi kreatif (Ekraf).

Kehadiran stan tersebut diharapkan dapat menjadi wadah promosi produk lokal sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat selama berlangsungnya Festival Budaya Biak Melanesia.