by

BRIN Petakan Potensi Unggulan Mimika, Kopi Robusta hingga Udang dan Kepiting Bakau

Merauke – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengidentifikasi potensi unggulan sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan di Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Hasil kajian menunjukkan sejumlah komoditas di tiga distrik memiliki peluang untuk dikembangkan guna meningkatkan nilai ekonomi dan pendapatan masyarakat.

Periset Madya BRIN, Solicah Vichy Budiwati, mengatakan pemetaan tersebut dilakukan melalui kajian selama tiga bulan di Distrik Mimika Timur, Mimika Barat, dan Agimuga.

“Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komoditas unggulan, juga melihat kendala, potensi, peluang dalam pengembangan komoditas unggulan ini, sehingga nantinya dapat dirumuskan melalui satu strategi dalam bentuk rekomendasi kebijakan pengembangan komoditas unggulan,” katanya dikutip dari Antara, Jumat (16/10/2026).

Kajian tersebut mencakup lima sektor potensial, yakni hortikultura, tanaman pangan, perkebunan, perikanan tangkap, dan perikanan darat. Setiap wilayah memiliki komoditas yang dinilai sesuai dengan kondisi dan karakteristik daerah masing-masing.

Untuk sektor hortikultura, tanaman cabai dinilai cocok dikembangkan di Distrik Mimika Timur, Mimika Barat, dan Agimuga. Sementara itu, komoditas buah-buahan yang berpotensi dikembangkan meliputi salak dan pisang.

Pada sektor perkebunan, sagu menjadi komoditas potensial di Mimika Timur. Adapun Mimika Barat dinilai sesuai untuk pengembangan kelapa, sedangkan Agimuga memiliki potensi pada kopi robusta.

Di bidang perikanan, Mimika Timur memiliki peluang pengembangan komoditas bernilai ekonomi tinggi, termasuk produk yang berpotensi menembus pasar ekspor. Sementara itu, Mimika Barat dan Agimuga juga memiliki potensi perikanan berupa udang dan kepiting bakau atau karaka yang bernilai ekspor.

“Salah satu komoditas yang memiliki nilai ekspor di wilayah Mimika yakni sektor perikanan,” ujarnya.

Solicah menjelaskan, komoditas unggulan di ketiga distrik tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dan dapat menjadi nilai tambah dalam pengembangan usaha masyarakat.

“Kopi punya karakteristik yang luar biasa dari sisi rasa dan wanginya. Kemudian, komoditas udang, kepiting dan juga umbi-umbian juga menjadi perhatian kami karena komoditas ini memiliki keunggulan dan karakteristik yang lebih unik,” katanya.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Mimika, PT Freeport Indonesia, Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro, tokoh masyarakat, serta pelaku usaha untuk mengoptimalkan potensi tersebut.

Sinergi berbagai pihak diperlukan agar pengembangan komoditas unggulan dapat berjalan sesuai kebutuhan masyarakat dan memberikan manfaat ekonomi bagi daerah.

Sementara itu, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Mimika, Darius Sabon Rain, mengatakan hasil kajian BRIN telah memetakan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat di tiga distrik tersebut. Temuan itu dipaparkan dalam seminar hasil kajian pengembangan komoditas unggulan pertanian, perkebunan, perikanan, dan pangan.

“Cuma ada beberapa tambahan tadi yang disampaikan tetap di masukkan sebagai bahan evaluasi. Tinggal kami di BRIDA berusaha untuk melaporkan hasil kajian karena hasil kajian ini ada rekomendasi untuk organisasi perangkat daerah (OPD) terkait,” tuturnya.

Darius menjelaskan, BRIDA Mimika akan menyampaikan sekaligus mengawal rekomendasi hasil kajian agar dapat ditindaklanjuti oleh organisasi perangkat daerah teknis sesuai kewenangannya.

Ia menyebut tiga persoalan utama yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan potensi daerah, yakni keterbatasan transportasi, akses pasar, dan kebutuhan tenaga pendamping, terutama penyuluh pertanian.

“Permasalahan utama yang saya dipaparkan tadi pertama masalah transportasi,masalah akses pasar dan ketiga tenaga pendamping khususnya penyuluh pertanian,” pungkasnya.