Merauke – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya tiga prinsip utama dalam penerapan Pembelajaran Mendalam di Papua, yakni berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Ketiganya diharapkan mampu meningkatkan kualitas proses belajar peserta didik.
Abdul Mu’ti menyampaikan hal tersebut saat melakukan kunjungan kerja ke Kota Jayapura, Papua, Selasa. Menurutnya, prinsip berkesadaran membantu siswa memahami materi yang dipelajari, alasan mempelajarinya, serta tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan pembelajaran.
“Prinsip berkesadaran mengarahkan peserta didik untuk memahami materi yang dipelajari, alasan mempelajarinya, serta tujuan yang ingin dicapai melalui proses pembelajaran,” kata Mu’ti saat melakukan kunjungan kerja ke Kota Jayapura, Papua, dikutip Antara, Rabu (21/10/2026).
Ia menjelaskan, pendekatan ini mendorong peserta didik untuk berperan aktif dalam proses belajar. Siswa tidak hanya menerima penjelasan dari guru, tetapi juga didorong untuk berpikir kritis, mengajukan pertanyaan, dan memahami pengetahuan yang diperoleh.
Prinsip kedua adalah bermakna, yaitu mengaitkan materi pelajaran dengan pengalaman sehari-hari, kehidupan sosial, serta kondisi lingkungan alam di sekitar siswa.
“Selanjutnya, prinsip bermakna menekankan pentingnya menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari, lingkungan sosial, serta kondisi alam di sekitar peserta didik,” ujarnya.
Melalui pendekatan tersebut, siswa diharapkan dapat memahami manfaat pengetahuan yang dipelajari dan menerapkannya dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada hafalan untuk memenuhi tuntutan akademik.
Adapun prinsip menggembirakan berfokus pada penciptaan suasana belajar yang nyaman dan menarik agar motivasi siswa untuk terus belajar semakin meningkat.
“Sementara itu, prinsip menggembirakan bertujuan menciptakan suasana pembelajaran yang nyaman, menarik, dan mampu meningkatkan motivasi peserta didik untuk terus belajar,” katanya.
Abdul Mu’ti menambahkan, suasana belajar yang menyenangkan perlu dibangun dengan mempertimbangkan karakteristik, potensi, dan kebutuhan masing-masing anak. Dengan cara itu, setiap peserta didik diharapkan memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya secara optimal.
“Saya juga menekankan pentingnya peran guru dalam mengenali kemampuan peserta didik, termasuk mereka yang kurang aktif dalam kegiatan belajar, sehingga pembelajaran dapat berlangsung secara inklusif,” pungkasnya.
Ia berharap penerapan ketiga prinsip tersebut dapat membuat Pembelajaran Mendalam tidak sekadar menitikberatkan pada penyampaian materi. Pendekatan ini juga diharapkan membangun pemahaman yang lebih kuat, membentuk karakter, serta menumbuhkan motivasi belajar siswa secara berkelanjutan.









