Merauke – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Teluk Wondama, Papua Barat, mendorong pendidikan menjadi gerakan bersama yang melibatkan keluarga, gereja, masyarakat adat, dan seluruh elemen masyarakat. Upaya ini berlandaskan filosofi “Membangun Peradaban dari Rumah, Setiap Rumah adalah Sekolah dan Setiap Orang adalah Guru” untuk membentuk pengetahuan sekaligus karakter anak sejak dini.
Bupati Teluk Wondama Elysa Auri mengatakan, rumah dan keluarga memiliki peran mendasar dalam membangun karakter generasi muda sebelum mereka berinteraksi lebih luas dengan lingkungan sosial.
“Kepada para orang tua jadilah pelita utama,” kata Elysa di Wasior, dilansir Antara, Senin (26/10/2026).
Menurut dia, pendidikan tidak semata-mata berlangsung di ruang kelas, tetapi juga tumbuh melalui pola pengasuhan, keteladanan, serta interaksi sehari-hari di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Orang tua, lanjutnya, menjadi pihak pertama yang menanamkan kasih sayang dan akhlak kepada anak. Sementara itu, guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga memberikan teladan yang membentuk perilaku dan kepribadian peserta didik.
“Saudara adalah penjaga gawang ilmu yang pengabdiannya melampaui sekadar jam mengajar di muka kelas,” ujarnya.
Elysa menegaskan, keberhasilan kebijakan tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari tokoh agama, pemimpin adat, unsur masyarakat, pemuda, kelompok perempuan, hingga aparatur pemerintah di tingkat kabupaten dan kampung.
Komitmen bersama itu dideklarasikan dalam perayaan syukur peringatan 101 tahun peradaban pendidikan di Tanah Papua yang berlangsung di Lapangan Aitumeiri, Miei, Distrik Wasior.
Ketua Dewan Adat Papua (DAP) Daerah Wondama Adrian Worengga menjelaskan, deklarasi tersebut memuat empat komitmen yang menjadi pijakan pemerintah daerah, masyarakat adat, dan gereja dalam memajukan pendidikan memasuki abad kedua.
Komitmen pertama adalah meneguhkan Aitumeiri sebagai salah satu tempat bersejarah dalam perkembangan pendidikan, pekabaran Injil, pembentukan karakter, dan pertumbuhan peradaban di Tanah Papua.
“Kami bertekad merawat warisan ini menjadi sumber inspirasi untuk membangun masa depan yang lebih baik,” kata Worengga saat membacakan deklarasi.
Komitmen kedua menempatkan pendidikan sebagai gerakan bersama yang dimulai dari rumah. Keluarga diharapkan menjadi tempat tumbuhnya iman, pengetahuan, kasih, kedisiplinan, dan karakter, sementara setiap orang didorong memberikan teladan melalui perkataan maupun tindakan.
Selanjutnya, komitmen ketiga menekankan penguatan kolaborasi antara pemerintah, lembaga keagamaan, dan masyarakat adat dalam mendukung kemajuan pendidikan.
Adapun komitmen keempat berfokus pada penyiapan generasi muda Wondama yang unggul untuk menyongsong abad kedua perjalanan peradaban pendidikan di Tanah Papua.
“Pembangunan Wondama harus dimulai dengan menyiapkan generasi yang beriman, cerdas, sehat, dan terampil serta mencintai budayanya sendiri,” ujarnya.
Deklarasi tersebut disaksikan Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan, Wakil Bupati Teluk Wondama Anthonius Alex Marani, serta Wakil Ketua II Sinode Gereja Kristen Injili di Tanah Papua, Pendeta Gustav Melkias Wutoy.
Sejumlah pimpinan perguruan tinggi juga hadir, yakni Wakil Rektor Universitas Papua (Unipa) Jonni Marwa dan Rektor Universitas Ottow Geissler Papua Philipus Ramandey. Turut hadir unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kabupaten Teluk Wondama.












