Merauke – Merah Pusaka Strategik Indonesia (MPSI) mendorong generasi muda Papua meningkatkan kesadaran demokrasi dan mengambil peran aktif dalam pembangunan daerah. Pesan tersebut disampaikan dalam Dialog Kebangsaan bertema “Suara Pemuda Papua, Mendorong Pemuda Lokal Menjadi Pelaku Pembangunan” yang digelar di Merauke, 28 Oktober 2026.
Salah satu materi yang dibahas dalam kegiatan tersebut bertajuk “Gen Z Melek Demokrasi — Dari Partisipasi Menuju Aksi”, yang disampaikan oleh Marman, S.Sos., M.Si.
Materi itu menekankan pentingnya mendorong keterlibatan generasi muda dalam demokrasi agar tidak berhenti pada mengikuti perkembangan politik, berdiskusi, menyampaikan pendapat di media sosial, atau menggunakan hak pilih. Partisipasi tersebut perlu dilanjutkan dengan tindakan konkret yang terarah dan bermanfaat bagi masyarakat.
Generasi Z memiliki ruang untuk berkontribusi dalam kehidupan demokrasi. Peran itu tidak hanya diwujudkan melalui pemilihan umum, tetapi juga dengan mengawasi kebijakan publik, menyampaikan aspirasi, dan terlibat dalam upaya mencari solusi atas persoalan di lingkungan sekitar.
Partisipasi Demokrasi Perlu Berlanjut Menjadi Aksi
Dalam pemaparan Marman, partisipasi dan aksi demokrasi merupakan dua hal yang saling berkaitan, tetapi memiliki perbedaan.
Partisipasi menjadi tahap awal keterlibatan warga, misalnya dengan mengikuti informasi, berdiskusi, memberikan dukungan, serta menyampaikan kritik. Sementara itu, aksi demokrasi diwujudkan melalui langkah konkret, seperti mengajukan usulan, mengawasi pelaksanaan kebijakan, mengikuti kegiatan sosial dan lingkungan, serta bekerja sama menyelesaikan persoalan masyarakat.
Dengan demikian, partisipasi menjadi pintu masuk, sedangkan aksi merupakan bagian penting dari penerapan demokrasi dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi pemuda Papua, pemahaman tersebut diharapkan dapat mendorong aspirasi berkembang menjadi gagasan dan kegiatan yang memberikan manfaat nyata. Keterlibatan generasi muda tidak cukup hanya terlihat dalam percakapan, tetapi juga perlu diwujudkan melalui kontribusi yang dapat dirasakan masyarakat.
Lawan Hoaks dan Bangun Demokrasi yang Sehat
Materi dialog tersebut turut menyoroti sejumlah hambatan yang dapat membuat generasi muda sulit beralih dari partisipasi menuju aksi. Di antaranya adalah kurangnya kepercayaan diri, anggapan bahwa suara individu tidak berpengaruh, minimnya pemahaman tentang jalur penyampaian aspirasi, serta perdebatan yang tidak produktif di ruang digital.
Di tengah derasnya arus informasi, pemuda juga perlu memiliki kemampuan untuk membedakan fakta dan hoaks. Kebebasan berpendapat harus diiringi tanggung jawab, pemahaman terhadap aturan, dan penghormatan terhadap perbedaan.
Demokrasi yang sehat tidak hanya memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan pendapat, tetapi juga mendorong penyampaian aspirasi berdasarkan fakta, menghindari ujaran kebencian, dan mengutamakan penyelesaian masalah.
Karena itu, literasi demokrasi perlu diperkuat melalui lingkungan pendidikan, organisasi kepemudaan, serta aktivitas masyarakat sehari-hari. Dengan bekal tersebut, generasi muda diharapkan mampu berpartisipasi secara kritis dan bertanggung jawab.
Pemuda Papua Didorong Terlibat dalam Pembangunan
Sejalan dengan tema Dialog Kebangsaan MPSI, pemuda Papua didorong mengambil peran lebih besar dalam pembangunan daerah. Keterlibatan itu dapat dimulai dari lingkungan terdekat, seperti mengikuti kegiatan sosial, berdiskusi mengenai persoalan publik, menghimpun aspirasi masyarakat, mengampanyekan literasi digital, hingga mengawasi pelayanan publik.
Berbagai langkah tersebut dapat menjadi awal untuk membangun budaya demokrasi yang partisipatif dan bertanggung jawab.
Generasi muda juga dapat memperluas kontribusi melalui kolaborasi dengan sesama pemuda dan berbagai unsur masyarakat. Kerja sama tersebut dapat membantu menyampaikan gagasan, mengidentifikasi persoalan, serta mendorong penyelesaian masalah secara bersama-sama.
Di Papua Selatan, penguatan peran pemuda menjadi salah satu aspek yang disoroti dalam upaya membangun masyarakat dengan kesadaran demokrasi, kemampuan berpikir kritis, dan kemauan untuk berkontribusi bagi kepentingan bersama.
Sumpah Pemuda Jadi Momentum Aksi Nyata
Peringatan Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum untuk merefleksikan peran generasi muda dalam menjaga persatuan dan berkontribusi bagi bangsa.
Semangat persatuan yang diwariskan pada 1928 dapat diwujudkan melalui tindakan yang relevan dengan tantangan saat ini. Pemuda diharapkan mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, meningkatkan kapasitas diri, dan menjadikan perbedaan sebagai dasar untuk membangun kolaborasi.
MPSI mendorong agar Dialog Kebangsaan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi juga menjadi pemantik lahirnya inisiatif dan aksi nyata dari pemuda lokal.
Keberanian menyampaikan aspirasi, kemampuan membangun kerja sama, serta komitmen menyelesaikan persoalan di lingkungan sekitar menjadi bagian dari peran yang dapat dilakukan generasi muda. Dengan begitu, demokrasi tidak hanya dipahami sebagai konsep dalam kehidupan bernegara, tetapi juga diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.
Melalui kegiatan tersebut, MPSI mengajak pemuda Papua terus belajar, berani menyampaikan pendapat, meningkatkan pemahaman demokrasi, dan mengambil bagian dalam pembangunan daerah serta masa depan bangsa.












