by

Peneliti MPSI Dorong Pemuda Papua Jadi Penentu Masa Depan, Soroti Kesenjangan Kemiskinan

Merauke – Generasi muda Papua didorong mengambil peran lebih besar dalam menentukan arah pembangunan daerah. Penguatan karakter, kompetensi, dan kesempatan berkontribusi dinilai penting agar pemuda lokal mampu mengembangkan potensi daerah sekaligus menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat.

Gagasan tersebut disampaikan peneliti Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI), Fathan Putra Mardela, dalam Dialog Kebangsaan bertema “Sumpah Pemuda, Suara Pemuda Papua: Mendorong Pemuda Lokal Menjadi Pelaku Pembangunan” di RKD Coffee, Merauke, Papua Selatan, Rabu (28/10/2026).

Dalam momentum peringatan 98 tahun Sumpah Pemuda, Fathan menekankan bahwa semangat persatuan yang diwariskan generasi 1928 perlu diwujudkan melalui karya dan tanggung jawab terhadap pembangunan.

Menurutnya, generasi muda Papua tidak cukup hanya menjadi penerima manfaat program pembangunan. Mereka juga perlu mengembangkan gagasan, menciptakan peluang, dan berkontribusi aktif bagi kemajuan daerah.

Jika generasi 1928 menyatukan cita-cita kebangsaan dan generasi 1945 memperjuangkan kemerdekaan, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan melalui pendidikan, penguasaan keterampilan, serta pengabdian kepada masyarakat.

IPM Papua Selatan Meningkat, Kesenjangan Kemiskinan Masih Menjadi Tantangan

Dalam konteks pembangunan Papua Selatan, Fathan mengaitkan peran generasi muda dengan tantangan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pemerataan kesejahteraan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dicantumkan dalam materi tersebut, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Papua Selatan pada 2025 mencapai 69,54. Angka itu meningkat 0,68 poin dibandingkan 2024 yang tercatat sebesar 68,86.

Peningkatan IPM menunjukkan perkembangan capaian pembangunan manusia yang diukur melalui dimensi kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak. Namun, kemajuan indikator secara agregat tidak serta-merta menghilangkan kesenjangan kesejahteraan antarkawasan.

Data BPS pada Maret 2026 menunjukkan persentase penduduk miskin Papua Selatan mencapai 18,54 persen. Jika dilihat berdasarkan wilayah, tingkat kemiskinan di perdesaan tercatat sebesar 25,77 persen, sedangkan di perkotaan sebesar 4,00 persen.

Terdapat selisih 21,77 poin persentase antara tingkat kemiskinan di perdesaan dan perkotaan. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan pemerataan kesejahteraan masih perlu mendapat perhatian.

IPM dan tingkat kemiskinan mengukur aspek pembangunan yang berbeda. Karena itu, peningkatan IPM belum tentu diikuti pemerataan kesejahteraan di seluruh wilayah.

Kondisi tersebut memperkuat pentingnya memperluas akses pendidikan, pelatihan keterampilan, dan kesempatan ekonomi. Generasi muda dapat mengambil bagian melalui pengembangan potensi lokal dan kegiatan produktif yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Kesejahteraan, Martabat, dan Keberdayaan Masyarakat

Dalam pemaparannya, Fathan menguraikan tiga dimensi pembangunan Papua, yakni kesejahteraan, martabat, dan keberdayaan.

Kesejahteraan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Martabat menekankan pentingnya penghormatan terhadap identitas, budaya, dan nilai kemanusiaan. Sementara itu, keberdayaan menyangkut kemampuan masyarakat untuk menentukan pilihan dan mengembangkan potensinya.

Ketiga dimensi tersebut menempatkan masyarakat sebagai pelaku pembangunan yang memiliki kapasitas dan ruang untuk berpartisipasi, bukan sekadar penerima bantuan atau program.

Dalam kerangka tersebut, pembangunan perlu membuka kesempatan bagi masyarakat lokal untuk mengembangkan kemampuan, memanfaatkan potensi daerah, dan terlibat dalam proses yang memengaruhi kehidupan mereka.

Tiga Modal Penting bagi Generasi Muda Papua

Untuk memperkuat peran pemuda, Fathan menyoroti tiga modal utama yang perlu dikembangkan, yaitu karakter, kompetensi, dan kontribusi.

Karakter menjadi landasan untuk membangun integritas, menghargai kebudayaan, dan menjaga persatuan. Kompetensi mencakup penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan, serta kemampuan kepemimpinan.

Adapun kontribusi diwujudkan melalui karya dan kolaborasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Penguatan ketiga modal tersebut dapat membuka peluang lebih luas bagi pemuda untuk terlibat dalam pengembangan usaha berbasis potensi lokal, pemanfaatan teknologi untuk kegiatan produktif, serta pemberdayaan masyarakat.

Dengan demikian, pendidikan tidak hanya berfungsi meningkatkan kemampuan individu, tetapi juga menjadi bekal untuk menciptakan peluang ekonomi dan menjawab berbagai kebutuhan daerah.

Kemajuan Harus Berjalan Seiring dengan Pelestarian Budaya

Fathan juga menempatkan kebudayaan Papua sebagai salah satu kekuatan dalam membentuk generasi muda yang berkarakter.

Menurut gagasan yang disampaikan dalam dialog tersebut, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga identitas lokal. Kemajuan tidak harus membuat generasi muda kehilangan akar budaya dan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.

Kebanggaan terhadap identitas Papua dan semangat persatuan Indonesia juga dipandang sebagai dua hal yang saling melengkapi. Pemuda dapat mempertahankan nilai budaya daerah sekaligus mengembangkan kapasitas untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional.

Pendekatan ini menempatkan keberagaman budaya sebagai bagian dari kehidupan berbangsa yang perlu dihormati seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

MPSI Dorong Kolaborasi untuk Memperluas Peran Pemuda

Melalui Dialog Kebangsaan tersebut, MPSI mendorong penguatan kapasitas dan perluasan partisipasi generasi muda lokal dalam pembangunan.

Kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, dan masyarakat dinilai penting untuk memperluas kesempatan belajar, mengembangkan kepemimpinan, serta mendorong lahirnya kegiatan produktif sesuai potensi daerah.

Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 menjadi momentum untuk menghubungkan semangat persatuan dengan tanggung jawab membangun masa depan.

Pesan “Berakar di Papua, bersatu untuk Indonesia, dan berkarya bagi masa depan” menegaskan pentingnya menjaga identitas lokal, memperkuat persatuan, dan mendorong kontribusi nyata generasi muda.

Bagi pemuda Papua, masa depan bukan sekadar warisan yang diterima, melainkan ruang untuk menciptakan kemajuan melalui pengetahuan, keterampilan, kolaborasi, dan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.