Merauke – Pemerintah Provinsi Papua Tengah (Pemprov Papteng) merencanakan perluasan sekaligus peremajaan perkebunan kopi dengan target lahan mencapai sekitar 1.400 hektare. Program yang dilaksanakan tahun ini akan menyasar lima kabupaten sebagai bagian dari upaya meningkatkan hasil produksi serta pendapatan petani.
Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, saat menghadiri Festival Kopi Papua Tengah 2026 di Nabire, Kamis, menyampaikan bahwa wilayah pelaksanaan program tersebut meliputi Kabupaten Nabire, Dogiyai, Paniai, Puncak Jaya, dan Intan Jaya.
“Pengembangan kopi menjadi salah satu prioritas pemerintah provinsi untuk mengoptimalkan potensi perkebunan dan memperkuat perekonomian masyarakat,” kata Meki pada Festival Kopi Papua Tengah 2026.
Menurut Meki, pemerintah provinsi telah mengalokasikan Dana Otonomi Khusus (Otsus) melalui APBD 2026 untuk mendukung pengembangan tanaman kopi di sejumlah wilayah. Rinciannya, pembangunan kebun kopi seluas sembilan hektare di Intan Jaya, delapan hektare di Puncak, serta delapan hektare di Deiyai.
Selain pengembangan lahan, pemerintah juga menyiapkan empat unit rumah kaca atau greenhouse yang berlokasi di Intan Jaya, Puncak Jaya, Paniai, dan Deiyai. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat menunjang berbagai tahapan kegiatan perkebunan, termasuk proses pembudidayaan tanaman dan penanganan hasil setelah panen.
Meki menjelaskan, Papua Tengah mempunyai peluang besar dalam pengembangan komoditas kopi dengan karakteristik wilayah yang beragam. Kopi Arabika berpotensi dikembangkan di kawasan pegunungan, sementara jenis Robusta dapat dibudidayakan di daerah dataran rendah, seperti Nabire dan Timika.
Namun, potensi tersebut perlu diimbangi dengan pengelolaan perkebunan yang tepat, peningkatan kualitas biji kopi, serta dukungan pemasaran agar hasil produksi petani mampu bersaing di pasar.
Ia menilai, keberhasilan pengembangan komoditas kopi tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan jumlah produksi. Petani juga perlu memperoleh manfaat ekonomi lebih besar melalui pengolahan dan pengembangan produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Sejumlah langkah yang dapat dilakukan antara lain memperbaiki kualitas dan desain kemasan, mendorong pertumbuhan usaha kedai kopi lokal, serta memperluas peran pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam rantai bisnis kopi.
Di sisi lain, penerapan teknik pertanian yang baik dan berkelanjutan juga menjadi perhatian pemerintah. Hal ini mencakup perawatan tanaman secara rutin, pemangkasan yang tepat, pemanenan buah ketika telah matang, hingga pengolahan pascapanen untuk mempertahankan mutu dan cita rasa kopi.
Gubernur berharap berbagai upaya yang dijalankan melalui program pengembangan perkebunan tersebut dapat mulai memberikan dampak positif terhadap kehidupan petani dalam kurun waktu tiga tahun mendatang.
Untuk merealisasikan target itu, Meki mengingatkan perlunya kerja sama yang kuat antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten. Sinkronisasi program serta pengalokasian anggaran dinilai penting agar bantuan dan kegiatan yang dilaksanakan benar-benar menjawab kebutuhan petani di masing-masing daerah.
Melalui peningkatan luas perkebunan, peremajaan tanaman, perbaikan kualitas produksi, serta perluasan jaringan pemasaran, Pemprov Papua Tengah menargetkan komoditas kopi dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap pendapatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah.











