Merauke – Perum Bulog Wilayah Papua dan Papua Barat mencatat penyerapan beras dari Kabupaten Merauke, Papua Selatan, baru mencapai sekitar 4.500 ton hingga September 2026. Jumlah tersebut setara dengan 19,56 persen dari target penyerapan sepanjang tahun yang ditetapkan sebanyak 23.000 ton.
Pimpinan Bulog Papua dan Papua Barat Chairul Mazhar mengatakan capaian tersebut masih rendah akibat perubahan iklim dan kondisi cuaca yang memasuki musim kering di wilayah Merauke.
“Lambatnya penyerapan beras di wilayah tersebut dikarenakan kondisi perubahan iklim dan kondisi cuaca yang memasuki musim kering di wilayah Merauke,” katanya di Jayapura, dilansir Antara, Kamis (8/10/2026).
Menurut Chairul, kondisi cuaca yang tidak mendukung turut mempengaruhi hasil produksi padi petani. Dampaknya, penyerapan beras Bulog di Merauke pada 2026 menjadi salah satu yang terendah jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
“Berdasarkan laporan serta dokumentasi dari lapangan, sejumlah lahan pertanian mengalami kekeringan cukup parah. Permukaan tanah di beberapa lokasi terlihat retak dengan kondisi retakan yang cukup dalam,” tuturnya.
Ia menjelaskan, dampak kekeringan terutama dirasakan di lahan pertanian yang masih bergantung pada sistem tadah hujan. Curah hujan yang minim membuat ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan tanaman padi menjadi terbatas.
Selain persoalan curah hujan, kondisi jaringan irigasi juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pasokan air ke lahan pertanian masyarakat.
“Selain curah hujan yang rendah, kondisi saluran irigasi turut mempengaruhi ketersediaan air bagi lahan pertanian masyarakat. Di mana saat air laut mengalami pasang, air yang masuk ke sejumlah saluran irigasi cenderung memiliki kadar payau hingga asin sehingga menyulitkan petani memperoleh pasokan air yang sesuai untuk tanaman padi,” katanya.
Chairul menambahkan, Bulog tetap berupaya mengoptimalkan penyerapan beras di Merauke meski produksi petani menghadapi tantangan akibat kondisi cuaca. Bulog juga masih optimistis target penyerapan sebanyak 23.000 ton dapat dikejar hingga penghujung 2026.












