Merauke – Masyarakat Adat Kalai Woyu Maklew di Kampung Wanam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, memperkuat semangat persatuan melalui diskusi adat dan deklarasi bersama dalam momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.
Mengusung tema “Merawat Persaudaraan, Menjaga Tanah Leluhur, dan Membangun Masa Depan Wanam”, kegiatan ini menjadi ruang dialog bagi masyarakat adat dan pemuda untuk mempererat hubungan antarmarga, membahas persoalan adat dan tanah leluhur, serta merumuskan komitmen bersama bagi masa depan kampung.
Momentum Sumpah Pemuda menjadi pengingat pentingnya persatuan, penghormatan terhadap keberagaman, dan semangat gotong royong sebagai fondasi untuk membangun kehidupan masyarakat yang damai, adil, dan sejahtera.
Ketua Adat Kalai Woyu Maklew, Yohanis Agabi Mahuze, menegaskan bahwa persaudaraan antarmarga merupakan landasan penting untuk menjaga nilai-nilai adat sekaligus membangun masa depan Kampung Wanam.
“Momentum Sumpah Pemuda ini harus menjadi pengingat bagi kita semua bahwa persaudaraan adalah kekuatan masyarakat adat. Kita boleh berbeda marga, berbeda pendapat, dan memiliki kepentingan masing-masing, tetapi kita tetap satu keluarga besar yang memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga adat istiadat, tanah leluhur, dan masa depan anak cucu kita,” katanya dalam keterangan, Rabu (28/10/2026).
Yohanis juga mengingatkan agar setiap persoalan yang muncul di tengah masyarakat diselesaikan melalui musyawarah dengan tetap menghormati adat istiadat dan sesama warga.
“Tanah leluhur bukan hanya tempat kita hidup hari ini, tetapi juga warisan yang akan kita tinggalkan bagi generasi berikutnya. Karena itu, kita harus menjaga persatuan, menghormati hak masyarakat adat, dan memastikan pembangunan membawa manfaat bagi masyarakat Wanam. Saya berharap para pemuda dan seluruh warga dapat berjalan bersama, menjaga kedamaian, serta membangun kampung dengan semangat gotong royong,” tambahnya.
Diskusi Adat Bahas Tanah Leluhur dan Pembangunan
Diskusi adat menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut. Forum ini diharapkan memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, bertukar pandangan, dan mencari kesepahaman dalam menghadapi berbagai persoalan bersama.
Sejumlah isu yang menjadi perhatian meliputi penguatan persatuan antarmarga dan antargenerasi, penghormatan terhadap hak masyarakat adat, perlindungan lingkungan, pelestarian budaya, serta hubungan antara pembangunan dan kesejahteraan masyarakat setempat.
Tanah leluhur tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga berkaitan erat dengan identitas, sejarah, kebudayaan, dan keberlanjutan kehidupan generasi mendatang.
Karena itu, pembangunan di wilayah Wanam perlu didukung komunikasi terbuka, penghormatan terhadap hak masyarakat adat, serta pelibatan warga dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka.
Persatuan masyarakat adat juga dinilai sebagai modal sosial untuk menghadapi perubahan sosial, persoalan tanah, dan dinamika pembangunan di wilayah Wanam.
Pemuda dan Perempuan Didorong Berperan Aktif
Selain membahas persoalan adat dan tanah leluhur, kegiatan ini menyoroti pentingnya peran pemuda dan perempuan dalam pembangunan kampung.
Peningkatan akses pendidikan, pengembangan keterampilan, pemberdayaan ekonomi lokal, dan pelestarian kebudayaan menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi penerus yang mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan jati diri.
Pemuda diharapkan dapat menjadi penggerak persatuan, penjaga nilai-nilai budaya, sekaligus mitra masyarakat adat dalam membangun masa depan Wanam.
Sementara itu, perempuan perlu mendapatkan ruang partisipasi yang bermakna dalam musyawarah adat, kegiatan ekonomi, dan berbagai program pembangunan kampung.
Pelibatan kedua kelompok tersebut diharapkan dapat memperkuat fondasi pembangunan yang inklusif sekaligus memastikan aspirasi berbagai lapisan masyarakat mendapat perhatian.
Deklarasi Jadi Komitmen Bersama
Puncak kegiatan direncanakan melalui pembacaan dan penandatanganan Ikrar Deklarasi Masyarakat Adat Kalai Woyu Maklew Wanam.
Deklarasi tersebut memuat komitmen untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), merawat persaudaraan, menghormati adat istiadat, menjaga tanah leluhur, melestarikan lingkungan, serta mendukung pembangunan yang adil dan berkelanjutan.
Deklarasi ini juga diharapkan menjadi landasan moral bagi masyarakat untuk mengedepankan musyawarah, keterbukaan, dan gotong royong dalam menyelesaikan berbagai persoalan.
Agar tidak berhenti sebagai pernyataan bersama, komitmen tersebut perlu ditindaklanjuti melalui agenda nyata yang melibatkan masyarakat adat, pemuda, perempuan, pemerintah kampung, dan para pemangku kepentingan terkait.
Melalui momentum Hari Sumpah Pemuda, Masyarakat Adat Kalai Woyu Maklew Wanam diharapkan semakin memperkuat persatuan dan membangun kesepahaman mengenai pentingnya menjaga warisan leluhur sekaligus mempersiapkan masa depan generasi muda.
Semangat kegiatan tersebut terangkum dalam semboyan:
“Satu Semangat, Satu Persaudaraan, Menjaga Tanah Leluhur, Membangun Masa Depan Wanam.”
“Semboyan tersebut menjadi pengingat bahwa persatuan, penghormatan terhadap adat, perlindungan tanah leluhur, dan pembangunan yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat perlu berjalan beriringan” Tutup Yohanis.











