Merauke – Tim 13 Ekspedisi Patriot IPB University mendorong peningkatan mutu dan higienitas tepung sagu Dwitrap melalui penerapan pemeliharaan mesin produksi dan peralatan secara rutin. Langkah tersebut diwujudkan lewat pelatihan perawatan mesin pengolahan sagu menggunakan prinsip 5R kepada Kelompok Tani Dwitrap.
Koordinator Lapangan Tim 13 Ekspedisi Patriot IPB University Muhamad Husni Tamami mengatakan, konsep 5R yang meliputi ringkas (seiri), rapi (seiton), resik (seiso), rawat (seiketsu), dan rajin (shitsuke) merupakan bagian dari filosofi Kaizen dari Jepang.
Konsep tersebut menitikberatkan pada pengaturan lingkungan kerja secara sistematis untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, sekaligus membangun kebiasaan perbaikan secara berkelanjutan.
“Prinsip 5R ini bisa diterapkan di Rumah Produksi Sagu Dwitrap untuk mendukung tata kelola rumah produksi sagu yang baik dan efisien. Metode ini diterapkan secara menyeluruh mulai dari pemarutan, pengayakan, pemerasan, pengendapan, pengepresan, pengeringan, ekstraksi pati sagu, dan pengemasan,” kata Husni dikutip dalam laman Resmi Pemkab Merauke, Selasa (29/9/2026).
Praktisi mesin pengolahan sagu Winanto menyoroti pentingnya membersihkan unit ekstraksi pati sesaat setelah proses produksi berakhir. Menurutnya, sisa pati yang tertinggal pada mesin dapat mengendap dan berpotensi menjadi tempat berkembangnya bakteri.
“Penanganan sisa bahan yang tidak dibersihkan akan berdampak buruk pada higienitas tepung karena tidak ada proses sterilisasi susulan setelah tahap ekstraksi pati sagu selesai,” ujar Winanto saat memberikan pelatihan.
Ia juga menjelaskan bahwa tidak semua komponen mesin cukup dirawat melalui pembersihan harian. Sejumlah bagian yang lebih kompleks, seperti saringan separator, membutuhkan perawatan berkala dengan jadwal yang disesuaikan dengan kondisi produksi.
Menurut Winanto, pemeriksaan sekaligus pembersihan bagian dalam separator sebaiknya dilakukan ketika Kelompok Tani Dwitrap telah memiliki persediaan tepung yang mencukupi untuk kebutuhan produksi selama dua sampai tiga hari. Pengaturan tersebut diperlukan agar proses pemeliharaan tidak menyebabkan kegiatan produksi terhenti secara tiba-tiba.
Ketua Kelompok Tani Dwitrap Yakobus Yatmop mengatakan kelompoknya telah memiliki pola kerja dan jadwal pemeliharaan mesin yang diterapkan secara rutin. Pembersihan dilakukan setiap kali proses produksi berlangsung, sedangkan pembersihan secara menyeluruh dilakukan setelah tiga batang sagu diproduksi.
“Sebelum mesin separator dimatikan pasca-produksi harian, kami membilas saringan dengan mengalirkan air dalam jumlah banyak agar sisa-sisa pati keluar dan saringan tetap dalam keadaan bersih,” tuturnya.
Yakobus menambahkan, sarana utama pengolahan sagu di kelompoknya saat ini sudah tersedia, mulai dari mesin pemarut, mesin peramas, bak pengendapan hingga rumah penjemuran.
Namun, menurut dia, pengembangan kapasitas produksi masih membutuhkan dukungan berupa peremajaan sejumlah mesin yang digunakan dalam proses pengolahan.
“Kalau untuk alat-alat Pak lengkap, cuma kurang peremajaan saja,” katanya.












